Usai APEC 4 Kepala Negara Kunjungi Mangrove

Back to Home

persindonesia.com // 08 Oktober 2013FPMBPRES-500 DENPASAR BALI – Sebanyak 4 Kepala Negara seusai menghadiri KTT APEC dan sebelum pulang ke negaranya masing-masing,mereka memilih untuk mengunjungi lahan kawasan konservasi Hutan Mangrove Taman Hutan Rakyat (Tahura) Denpasar.
Para Kepala Negara tersebut diantaranya kepala negara Fiji, Kepulauan Salomon, Kiribia, Kepulauan Marshal,selama 30 menit mereka berkeliling di hutan mangrove dengan tujuan untuk melihat secara langsung upaya Bali (Indonesia) dalam konservasi mangrove. Mereka sangat berkesan dengan kondisi nuansa hijau mangrove di Bali,bahkan sempat terlontar dari ungkapan mereka,terinspirasi ingin membangun hutan mangrove negaranya,juga untuk mengetahui dari dekat kegiatan kawasan konservasi yang diminati oleh banyak negara,dan mereka ingin belajar saint mangrove dari Bali.
Staf Dinas Kehutanan Provinsi Bali Magdalena Hehakaya yang mendampingi para kepala negara singkat kepada pers yang hadir menjelaskan, umumnya para kepala negara menyatakan kekagumanya terhadap situasi hutan mangrove secara keseluruhan.
Rombongan Kepala Negara tersebut juga mengunjungi laboratorium mangrov, termasuk melihat berbagai produk makanaan dan olahan berbahan buah mangrove.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali IGN Wiranatha,  mengungkapkan ,Para Kepala Negara yang didampingi humasnya mengaku sangat tertarik untuk mempelajari hutan bakau.Selama berjalan menyusuri hutan bakau Tahura itu, lanjut dia, para Kepala Negara serta delegasi masing-masing negara itu seksama memperhatikan tanaman mangrove yang menjadi kawasan konservasi tersebut,ungkap Kadis.
Ditegaskan,Kami merasa bangga kawasan hutan bakau Tahura Ngurah Rai menjadi salah satu objek kunjungan peserta KTT APEC, dengan demikian Tahura yang tyepatnya berada di tengah-tengah Kota Denpasar akan menjadi lebih dikenal di mancanegara,keberadaan Tahura Ngurah Rai yang luasnya mencapai 1.300 hektare ini akan terus dilestarikan karena hutan mangrove fungsinya cukup besar bagi kehidupan ekosistem laut dan darat.
Tanaman bakau juga menjadi penahan gelombang pasang (tsunami), karena itu kami bersama semua lini pemangku kepentingan secara maksimal berupaya melestarikannya,tukasnya .
Disisi lain kadis juga mengomentari terkait adanya keluhan masyarakat terkait pelanggaran terhadap kawasan hutan mangrove,diungkapkan ; Ada beberapa kasusu diantaranya tanah Tahura disertifikatkan oleh warga,namun tidak semua tergolong pelanggaran karena ada tanah warga yang ditumbuhi mangrove,jadi mereka tidak tergolong melakukan pelanggaran,demikian Kadis mengungkapkan.

  Magdalena staf Kantor Dinas Kehutanan Bali mengaku bangga dan senang mendampingi kepala pemerintahan yang berkunjung ke Tahura. Sebelum diajak menyusuri hutan mangrove, pihaknya mengajak ke ruang pameran tanaman mangrove guna menjelaskan lebih lanjut fungsi dari keberadaan hutan bakau. Diruang pameran saya sempat  menjelaskan fungsi dari tanaman mangrove, termasuk juga pengolahan buah mangrove untuk dijadikan kosmetika, seperti lulur badan dan sabun,juga diolah menjadi campuran bahan baku makanan dan permen,” ungkapnya.

Para Kepala Negara mengaku sangat tertarik untuk belajar lebih lanjut, Perdana Menteri Kepulauan Salomon Gordon darcy Lilo disela jalanan singakat tinjau mangrove mengungkapkan , ke depannya akan mengutus instansinya untuk datang Ke Indonesia khususnya Bali untuk study terkait pemanfaatan hutan mangrove,dan akan berupaya membangun hutan mangrove di negharanya,juga merasa sangat berkesan dengan konservasi mangrove yang ada. Sementara ide lawatan ke mangrove berawal info terkait keberadaan Hutan mangrove Indonesia yang ada di Bali dari berbagai media Online yang santer memberitakannya,terangnya sambil senyum puas.

Sementara itu, Ketua Forum Peduli Mangrove Heru B Wasesa mengatakan pihaknya tetap konsisten untuk melestarikan hutan bakau, salah satunya melakukan penanaman dan pembersihan hutan konservasi ini.
Bersama anggota kami terus melakukan pemeliharaan hutan mangrove yang ada di Tahura Ngurah Rai dengan mengerahkan tenaga ratusan orang yang digaji per bulannya sesuai UMR di Bali,ungkap Heru.
Heru megharap kepada instansi yang melakukan penanaman mangrove tidak sekadar serimonial saja, tetapi harus mempunyai kepedulian dan tanggung jawab treatment/pemeliharaan.
Yang kami perhatikan,kebanyakan instansi melakukan penanaman mangrove kebanyakan serimonial semata,namun tidak ada tindak lanjut untuk pemeliharaan terhadap tanaman mangrove itu,ini bukan pencitraan namun keseriusan dalam melakukan kelestarian alam.paparnya.
Ditambahkan Kawasan yang menurut FPMB masih belum sempurna tertata tersebut sudah menjadi inspirasi banyak negara. Bila seluruh elemen terkait melakukan hal yang sama dan ingin menata mangrov secara lebih sempurna maka Bali diyakini bisa menjadi primadona mangrove dunia.
FPMB tengah menangani di areal seluas 1300 hektar. FPMB juga sudah mempekerjakan 110 orang dari 5 kelurahan di wilayah Kuta Selatan dengan gaji UMR.   Yang direkrut oleh FPMB adalah nelayan setempat, warga miskin yang tidak memiliki penghasilan tetap. Setiap harinya mereka membersihkan sampah di hutan mangrove, menanam kembali yang mati, merawat yang hidup.
Fokus mereka adalah merawat yang sudah ada ketimbang menanam baru namun tidak dirawat,dan tantangan kini adalah penerobosan, penggusuran untuk pembangunan dan kepentingan ekonomi,ungkap Heru dengan lantang dan penuh semangat,kini Heru oleh warga diibaratkan rohnya mangrove telah menyatu diraganya.

(Wx,Gs,)

 

sumber : http://persindonesia.com/?Usai_APEC_4_Kepala_Negara_Kunjungi_Mangrove