TOMY WINATA: Jangan Jadi Malin Kundang!

Back to Home

130828_tomy winata-twBisnis.com, JAKARTA – Sehari menjelang peringatan ke-68 Kemerdekaan RI, Bisnis mendapatkan kesempatan untuk wawancara dengan pemilik kelompok usaha Artha Graha, Tomy Winata di Tambling Wildlife Nature Conservation, Lampung.

Obrolan santai di tengah hutan yang sejuk tersebut menghilangkan kesan angker dan tertutup dari sosok Tomy. Banyak hal yang menarik yang bisa digali dari taipan yang hanya menempuh pendidikan formal tingkat SMP ini. Wawancara juga dilakukan pada kesempatan berbeda. Berikut petikannya :

Peringatan Kemerdekaan ada mak­­nanya bagi Anda?

Eh Pak, setiap 17-an kita ada upacara, kalau nggak di SCBD, ya di [Hotel] Bo­­­­­­­­robudur. Di sini besok juga ada. Namun bagi saya sendiri, itu saatnya me­­­re­­nungkan moral kita. Tujuhbelasan itu penting diupacarakan dan diperingati.

Namun apa artinya kalau memperingati itu hanya di mulut, hanya sebatas ber­­­diri dan nyanyi, tetapi implementasi kita hari-hari secara moral dan keba­­tin­­­an tidak terpatri dalam?

Nah itulah yang saya kira perlu dibangun jiwa kor­­­sa sebagai seorang anak negeri, anak Indonesia. Orang bilang masih Me­­­rah Putih dada saya. Namun benar nggak implementasinya?  Kok saat Me­­­rah Putih dihina, dibakar, putih diturunkan hingga di­­lecehkan kok tidak ter­­­­­bangun emosi sebagai anak In­­­do­­ne­­sia?

Cuma banyak yang berpikir, kalau ada orang menghina Indonesia, mele­ceh­­­­­kan Merah Putih saya tindak, nanti saya dihukum? Kok mikir bagaimana? Ka­­­lau ada yang menghina Merah Pu­­tih, melecehkan NKRI, ya kudu digebuk. Bahwa gara-gara saya menggebuk orang itu terus saya ditangkap, itu urus­­­­­an lain.

Sekarang begini, Anda punya orang tua, tiba tiba dilecehkan orang, terus dia­­­­­­niaya. Anda gebuk nggak kalau me­­­­nyaksikan sendiri? Setelah Anda ge­­­­buk itu orang, apa tidak ditangkap po­­­li­si juga? Apalah risiko. Jiwa seperti ini­­­­lah yang sekarang tidak dimiliki. Soal persatuan dan kesatuan, generasi mu­­da sekarang bukannya nggak ada, ya maaf tetapi tipis.

Kok bisa berapi-api kalau soal Me­­rah Putih? Sementara sekarang ba­­­nyak anak yang tidak terlalu pe­­­duli soal itu?

Bukan salah anaknya juga, salahnya ling­­­kungan di mana dia dibesarkan. Sa­­­ya mengalami banyak hal yang mem­­­­­bentuk itu, menikmati penderitaan sejak kecil dalam menjalankan hak saya sebagai anak Indonesia.

Umur 14 ta­­­­­hun sudah meninggalkan rumah, berjuang cari makan. Kena tipu, kerja ke­­­­­­ras menerima penghinaan, menerima pendidikan lapangan yang keras dari pengawas lapangan karena saya ker­­ja sama orang. Istilah saya, hampir se­­­mua luka di kaki saya ini itu tanda lu­­ka pendidikan lapangan yang keras.

Dulu kalau saya berbuat salah, di-kampleng. Dipanggil terlambat 10 menit, tendang. Nggak sengaja le­­­wat pas ada upacara bendera, di-kampleng. Namun lama-lama berbuah nik­­­mat, saya jadikan pendidikan bah­­­wa saya ti­­­dak boleh salah. Saya pikir wa­­­jarlah, ka­­­lau memandang bendera pada saat upa­­­cara harus bersikap sem­­pur­­na.

Indonesia ini dibangun dengan ma­­hal, untuk menjadi NKRI kita butuh ratusan tahun. Jadi jangan disia-siakan pengorbanan para pahlawan.  Intinya yang harus kita pikirkan bagaimana memperbaiki Indonesia dengan baik.

Ingat lagu Padamu Negeri? Saya nya­­nyi itu bulu kudu merinding. Anak-anak sekarang? Tinggal ucapan sekilas. Ini harus diubah.

Lewat mana mengubahnya?

Yang paling ampuh pendidikan. Kita se­­­­­­lama ini sukses menghasilkan orang pin­­ter. Banyak sarjana, doktor hingga pro­­­fesor ketimbang jaman dulu. Na­­­mun berapa yang masih memiliki militansi tetap setia kepada NKRI, loyal dan teguh kepada Sumpah Pemuda serta siap memberikan segala-galanya demi berkibarnya Merah Putih? Ini yang sekarang luntur.

Akibatnya, orang semaunya mele­­ceh­kan Merah Putih. Kalau Anda sekarang injek-injek itu bendera, berkelahi kita. Soal siapa menang kalah nomor dua, tetapi tindakan harus saya ambil. Nggak bisa karena kita kecil, terus nggak berani.

Filosofi itu yang saya ha­­­rapkan ditanamkan kembali kepada anak-anak Indonesia dan ini paling am­­­puh melalui pendidikan dari pra se­­ko­­lah, TK hingga SMA. Jadi lama-lama kita bisa membuat orang pintar tetapi ti­­­dak bisa membuat orang yang ber­­ka­­rak­­­­­ter dan berkepribadian.

Sejak kapan kesadaran soal na­­sio­­na­­lisme ini muncul?

Saya kira mulai mendengar begitu saat mulai sekolah. Terus di lapangan ke­­­­­­betulan bekerja di bos saya yang re­­kanan ABRI. Dari dasar itulah saya berupaya sedikit demi sedikit karena se­­­­­­tiap hari didoktrin senior-senior dan ber­­gaul dengan para birokrat era jaman 80-an.

Slow but sure sesuai de­­­ngan  bertambahnya umur, tingkat militansi itu makin bertambah. Ketika sa­­­ya usia 17, soal itu menjadi harga mati.

Hanya waktu muda dulu, membela ke­­­­­­yakinan itu dengan keras terhadap hal-hal yang bagi saya menyimpang dari nilai-nilai murni Indonesia. Ma­­­ka­­­nya dicap seolah-olah saya preman. Memang saya bukan yang terbaik, saya juga banyak sekali kelemahan. Tapi saya selalu berusaha mengurangi ke­­­­­­lemahan itu setahap demi setahap.

Jadi dulu sering berkelahi fisik?

Ya itu masa-masa umur 23 ke ba­­wah. Saat itu kalau tidak nempeleng ya kena tempeleng. Namun bagaimana situasi dulu, saya kan tumbuh di daerah keras. Ka­­lau saya sa­­lah, ya me­­nerima, kalau nggak salah ya melawan.

Mungkin insting itu yang ter­­­­­bawa sampai hari ini. Tapi pun tidak benar kita sewenang-wenang me­­­rampas hak-hak orang. Cuma me­­­mang terhadap sesuatu inkonsistensi yang sifatnya berdampak pada hal yang prinsip itu zero tolerance. Tidak bo­­­­­­leh ditolerir.

Tahun 1998 katanya titik balik Anda dalam hidup?

Bukan titik balik juga. Seder­­ha­­na­­nya, saya mengambil keputusan yang benar pada 1998. Saat begitu banyak bu­­­juk rayu orang upaya pindah dari Indonesia. Saya tidak pindah, dan saya tidak akan pergi.

Banyak cobaan, te­­kanan dan godaan [untuk pergi dari Indonesia]. Semua saya hadapi. Mungkin itu bagian titik balik kita, dan saya merasa saya benar. Walaupun waktu itu ancaman dan tekanan kepada minoritas tinggi dan kepada saya pribadi juga tidak kecil, tetapi kenapa saya bisa menghadapi, ya kembali lagi ka­­­rena sejak kecil saya diberi kebebasan oleh orang tua saya untuk me­­­nikmati hak menderita.

Kita jangan jadi Malin Kundang. Ibu sudah membesarkan kita, kerja sete­ngah mati, walaupun nggak berlebih­an cukup makan, kalau ibu sakit masa di­­kasih racun sih? Nah ini sama de­­­ngan Ibu Pertiwi. Masa kita racunin, itu saja sederhana berpikirnya.

Kalau ti­­­dak ada elemen NKRI kita ini tidak ja­­­­­­di orang Indonesia, tidak ada infra­­s­­truk­­­tur oleh NKRI kita juga nggak bisa ber­­­pakaian seperti ini.

Anda jadi pengusaha dapat duit di sini, ambil kekayaan alam Indonesia ba­­­­­nyak banget. Masak duitnya simpan di luar? Itu kan [namanya] Malin Kun­­­dang.

Bahwa Indonesia belum sempurna, ja­­­ngan membuat kita frustasi. Itu kan harus kita terima dan hadapi, tinggal ba­­gai­­­mana kita ikut memperbaikinya men­­­jadi lebih sempurna. Indonesia ini jauh lebih cepat dewasa daripada negara lain.

Lihat Amerika, dia baru jadi stable sebagai negara dengan tidak melanggar HAM setelah berapa tahun sih? Australia berapa tahun sih? Pekan lalu saya bicara dengan PM Solomon Islands. Saya tanya dia, You kan sering ke Australia, ada nggak Aborigin jadi gubernur, jadi menteri? Ketawa dia..ha-ha

Kembali soal NKRI, apakah ba­­­nyak pengusaha kita yang masih na­­­­sionalis?

Saya kira sangat banyak, silent ma­­jo­­­rity. Namun yang harus tetap dibe­­nahi biar tidak terkikis.

Anda menularkan juga ke anak-anak soal ini?

Saya kasih tahu ke anak-anak bah­­wa kalian dibesarkan rupiah. Jadi kalau sudah pintar, sekolah keluar ne­­­geri harus kembali pulang mengabdi ke­­­pada rupiah karena otaknya pedagang.

Bila setelah lulus kuliah ternyata ti­­dak mau pulang, ya terserah karena se­­­bagai pribadi mereka sudah dewasa. Saya tidak bisa melarang. Hanya bila itu yang mau dilakukan, kembalikan se­­­mua yang saya kasih, hanya boleh bawa badan. Maka saya tidak pernah kasih berlebihan waktu mereka sekolah di Amerika atau China.

Jadi intinya anak-anak harus kembali ke Indonesia mengawal rupiah. Saya bilang, kamu boleh bergaul de­ngan dolar, boleh bergaul dengan yen, tapi Ibu Pertiwi kamu rupiah.

Ya mereka sempat ngeledek. Papi, rupiah kan goyang-goyang. Saya sampaikan bagaimanapun goyangnya rupiah, itu yang membiayai kamu. Tanpa rupiah saya tidak bisa sekolahin ka­­­mu. Jadi saya kalau ngomong itu pakai hal-hal yang gampang, nggak perlu sekolah tinggi-tinggi juga gampang dicerna.

Bagaimana reaksi anak-anak?

Saya nggak tunggu reaksi, given. Take it or leave it, kalau leave it, ting­­galin barang semuanya Lu pergi. Dan saya tidak akan memanggil anak saya lagi pulang, kalau dia berani ninggalin ru­­­mah. Haram saya panggil dia pu­­­lang, bagi saya anak nomor dua dan mungkin nomor tiga. Komitmen sa­­­ya menjadi anak bangsa yang benar.

Ja­­­di, kalau besok lusa demi kepenting­an puluhan ribu orang anak Indonesia dan ternyata penghalangnya anak sa­­ya, pasti saya korbankan dia. Anak-anak tahu itu semuanya.

 

Pewawancara: Arif Budisusilo/Y. Bayu Widagdo/Akhirul Anwar

Source : Bisnis Indonesia, Rabu (28/8/2013)

Editor : Fatkhul Maskur

 

Sumber : http://www.bisnis.com/tomy-winata-jangan-jadi-malin-kundang