Tomy Winata Angkat Bicara Soal Giant Sea Wall dan Jembatan Selat Sunda

Back to Home

jss2

Jakarta -Pengusaha Tomy Winata yang merupakan bagian dari Artha Graha Network dan Pemrakarsa Proyek Jembatan Selat Sunda atau Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda (KSISS/JSS) kembali angkat bicara soal nasib kelanjutan JSS. Tomy juga menanggapi soal proyek Giant Sea Wall di Teluk Jakarta yang akan digarap pemerintah pusat.

Sebelumnya secara pribadi, Direktur PT Danayasa Arthatama Tbk Agung R. Prabowo mengakui berminat menggarap proyek Giant Sea Wall atau tanggul raksasa di Teluk Jakarta yang disampaikan kepada Menteri PU Djoko Kirmanto.
Menurut Tomy, merealisasikan proyek besar seperti Giant Sea Wall termasuk JSS butuh keputusan tegas dari pemerintah. Ia mengilustrasikan, proyek JSS yang saat ini sudah jelas-jelas memiliki payung hukum dan menyangkut kepentingan lebih luas Sumatera dan Jawa, nyatanya belum bisa terealisasi.

“Pak Agung kan direksinya perusahaan-perusahaan Terbuka (Tbk), mungkin PT Tbk punya minat. Kalau saya pribadi agak aneh dan mudah-mudahan saya yang salah, mohon maaf KSISS/JSS yang menyangkut masa depan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa yang sudah ada Keppres, Perpres dan punya efek domino yang positif ke seluruh negeri, sekurangnya masa depan 3/4 rakyat dan 80% ekonomi NKRI yang berwenang ragu-ragu dan tidak bisa satu kata (delay tanpa keputusan), apakah dalam hal pembangunan DAM Banten- Tangerang-Jakarta-Bekasi-Karawang pemerintah pusat bisa berani ambil sikap yang serius tegas,” tegas Tomy kepada detikFinance melalui pesan singkatnya, Senin (18/11/2013)

Ia berpesan, agar proyek JSS jangan sampai menjadi proyek politik, walaupun memang perlu keputusan politik yang kuat.

“Proyek tersebut perlu keputusan politik yang kuat, tapi jangan jadi proyek politik tertentu. Perlu pribadi yang kuat, ikhlas dan siap ambil risiko apapun dengan tegas tuntas demi tercapainya proyek strategis demi masa depan rakyat dan NKRI. Mohon maaf, ini hanya pandangan saya, dan saya senang serta terima kalau saya yang dianggap salah selama ini,” tegas Tomy.

Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto (Djokir) menegaskan proses persiapan proyek Jembatan Selat Sunda tak berhenti. Namun ia mengakui proyek ini berjalan lamban karena terjadi perbedaan pandangan di internal pemerintah.

“Menurut pendapat saya soal Jembatan Selat Sunda, saya tak pernah mengusulkan itu batal. Kalau dibilang berhenti saya tak sepakat, tapi kalau lambat saya sepakat,” tegas Djoko pekan lalu.

Saat Agus Martowardojo, menjabat Menteri Keuangan sempat mengusulkan revisi Perpres No 86 Tahun 2011 tentang KSISS. Agus satu-satunya menteri yang menolak feasibility study (FS) dikerjakan oleh swasta dalam hal ini pemrakarsa JSS. Agus ngotot agar studi JSS dilakukan pemerintah melalui APBN, setelah itu ditender ke swasta.

Dalam perkembanganya usulan itu menuai perdebatan karena bakal mengancam kiprah pemrakarsa (pemda Lampung-Banten dan Artha Graha) untuk menyiapkan proyek JSS termasuk studi kelayakan dan basic design.

Masalah ini dibahas di kantor Menko Perekonomian, yang kemudian dibentuk tim 7 sebagai tim inti yang membahas perbaikan maupun rekomendasi terkait persiapan pembangunan JSS.

Sejak Juli 2012 sejatinya masalah ini sudah ada keputusan namun hingga kini sudah hampir satu tahun lebih belum ada hasil. Jembatan Selat Sunda ditargetkan mulai groundbreaking tahun 2014 seperti yang pernah disampaikan Presiden SBY. Proyek jembatan sepanjang 29 km itu rencananya akan menelan dana sedikitnya Rp 100 triliun.

 

 

sumber :  http://finance.detik.com/read/2013/11/18/163455/2416210/4/tomy-winata-angkat-bicara-soal-jembatan-selat-sunda