Sekaveling SCBD Dilego Rp1,8 Triliun

Back to Home

JAKARTA—Pengelola kawasan bisnis SCBD (Sudirman Central Busi­ness District) dari Grup Artha Graha PT Danayasa Arthatama Tbk (SCBD) melalui anak usahanya PT Citra Adisarana melepas sekaveling lahan­nya senilai US$184 juta ekuivalen Rpl,8 triliun.

Pembelinya Pacific Century Pre­mium Development (PCPD), lini pro­perti PCCW Ltd (PCCW Group), per­usahaan holding yang berbasis di Hong Kong dengan portofolio di bi­dang telekomunikasi, media, tekno­logi informasi, properti dan investasi.

Dalam transaksi tersebut, PCPD memakai anak usahanya, PT Prima Bangun Investama. Perjanjian transaksinya diteken kamis (23/5).

“Akuisisi itu memberi kesempatan kami masuk ke pasar properti kan­tor premium di Jakarta,” ungkap manajemen PCPD dalam keterangan tertulis, Jumat (24/5).

Perjanjian akuisisi itu juga menyediakan opsi bagi Prima Bangun untuk memiliki sebagian saham Citra Adi­sarana melalui akuisisi bertingkat. Opsi ini akan membuka jalan perka­winan tak langsung antara PCPD dan Danayasa, dan dengan sendirinya, PCCW Group dan Grup Artha Graha.

Danayasa adalah subholding lini properti-konstruksi Grup Artha Gra­ha di bawah kendali pengusaha na­sional yang dikenal kontroversial, Tomy Winata. Total lahan kelolaan Danayasa bersama sejumlah anak usahanya di kawasan SCBD 45 ha.

Kavling yang dijual Citra Adisa­rana terletak di Jalan Jenderal Su­dirman Kav. 52-53 Lot 10, Jakarta Selatan. Luasnya 9.277 m2 atau men­dekati 1 hektare. Dengan harga tran­saksi Rp l,8 triliun, maka harga lahan kaveling tersebut Rp l94 juta per m2.

Dalam catatan Bisnis, itu adalah harga lahan tertinggi di kawasan bis­nis Sudirman-Thamrin. Harga terse­but juga jauh lebih tinggi dari harga pasar hasil perhitungan lembaga konsultan properti Jones Lang LaSalle yang ditunjul PCPD, Rp 1,12 triliun ekuivalen US$ 115 Juta.

Belum ada pernyataan resmi dari Danayasa mengenai transaksi yang jarang ini. Telepon Direktur Dana­yasa Agung R. Prabowo yang coba dikontak tadi malam tidak diaktif­kan. Begitu pula dengan Corporate Secretary Tony Soesanto.

Di sisi lain, investor juga relatif belum merespons transaksi tersebut. Jumat lalu, harga saham Danayasa yang berkode SCBD masih ditutup flat Rpl.000, dan membentuk kapi­talisasi pasar Rp3,32 triliun.

Nyaris bersamaan dengan trans­aksi Grup Artha Graha itu, perusahaan investasi asing BSL Investment inc melepas 3,43% atau setara 1,65 miliar saham pengelola superblok PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) seni­lai Rp 635,25 miliar ke investor yang tidak disebutkan identitasnya.

Analis PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menduga transaksi tersebut terafiliasi mengingat harga transaksinya hampir setara dengan harga pasar PWON, Rp 385 per saham. “Mungkin saham itu dibeli anak usaha Pakuwon, sehingga dia bisa memiliki hak terkait dengan akses pembiayaan.” (Rlnqkanq Cumlwanq)

 

Sumber : harian Bisnis Indonesia, edisi cetak 27 Mei 2013, hal. 1