Segmen Menengah Atas Tetap Tumbuh

Back to Home

JAKARTA — Pasar properti di segmen menengah atas diperkirakan tetap menjanjikan kendati mengalami tren perlambatan. Pengembang juga tetap optimistis bisa meraih target penjualan dari pemasaran unit-unit mewah.

  • Pasar properti Indonesia tetap prospektif karena kebutuhan hunian tetap tinggi.
  • Konsumen kelas atas menginginkan hunian yang relatif dekat dengan tempat kerja.

Direktur Pemasaran Perum Perumnas Muhammad N’awir mengatakan Perumnas melalui anak usahanya PT Propernas Griya Utama tengah membangun kawasan terpadu Sentraland di Semarang.

“Untuk kelas menengah kami bangun di Semarang, ada apartemen kapasitasnya 355 unit dan kondotel 170 unit,” ujarnya, Kamis (6/8).

Menurut Nawir, Sentraland Semarang sudah dipasarkan dan pembangunannya telah mencapai lantai ke-15 dari 20 lantai yang direncanakan. Dia menargetkan pembangunan bisa rampung akhir tahun ini atau pada awal 2016.

Selain apartemen, Sentraland Semarang juga mencakup pusat perbelanjaan, perkantoran, dan hotel. Untuk hotel, Perumnas akan membangun hotel kelas bintang empat.

Nawir menyebutkan unit apartemen di Sentraland Semarang ditawarkan dari Rp550 juta untuk tipe studio hingga Rp 1 miliar.

Untuk menunjang gaya hidup masyarakat yang kian gandrung dengan teknologi, Perumnas juga menggandeng PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. untuk instalasi information & communication technology sehingga unit di Sentraland Semarang dan hunian lain yang akan dikembangkan Perumnas akan menerapkan bangunan cerdas (smart building).

Presiden Direktur PT Tokyu Land Indonesia Shinya Miwa mengatakan pasar properti Indonesia tetap prospektif karena kebutuhan hunian tetap tinggi. “Produk Tokyu eksklusif. Kami ingin membangun tempat tinggal yang nyaman,” katanya di Bekasi, Rabu (5/8).

Dia menyebutkan tahun ini Tokyu akan memulai pemancangan tiang perdana pembangunan tiga menara apartemen Branz di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten dan dua menara Branz Simatupang di Jakarta Selatan. Pemancangan tiang apartemen Branz BSD, menurut Miwa, direncanakan berlangsung September 2015.

Sementara itu Direktur Vida Bekasi Edward Kusma mengatakan perseroan berencana membangun apartemen mewah di kawasan elite Menteng di Jakarta Pusat.

“Sekarang kalau kita lihat rumah di Menteng harganya sudah mencapai Rp100 miliar. Jadi, kalau ada apartemen dengan harganya setengahnya, orang masih mau beli,” tutur Edward.

TREN MENURUN

Berdasarkan kalkulasi sementara, perusahaan membanderol harga sekitar Rp100 juta/ m2. Jumlah ruang berkisar 50 unit hingga 60 unit dengan luasan ukuran yang terkecil berkisar 300 m2-400 m2.

Edward menambahkan ke depan konsumen kelas atas menginginkan hunian yang relatif dekat dengan tempat kerja. Sebagai contoh, apartemen di Pacific Place di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan walau memasang harga tinggi, tetap diburu pembeli.

Ketika ditemui di tempat terpisah, Head of Research and Advisory Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo menuturkan pada semester 1/2015, baik aktivitas penjualan maupun prapenjualan apartemen mengalami tren menurun.

Menurutnya, banyak calon konsumen yang memilih menunda pembelian karena masih menunggu perbaikan ekonomi secara umum. Sikap pasar yang cenderung menunggu dan melihat akhirnya membuat mayoritas pengembang 1 menunda peluncuran proyek baru.

“Penurunan penjualan dan peluncuran produk secara signifikan terjadi pada segmen menengah maupun atas,” tuturnya.

Berdasarkan hasil risetnya, Cushman & Wakefield Indonesia mencatat sampai akhir Juni 2015, tingkat penjualan apartemen yang sudah dibangun mencapai 97,7% atau turun 0,1% dari kuartal sebelumnya. Persentase okupansi tercatat sebesar 59,9% atau turun 3,8% dari triwulan sebelumnya.

Adapun total pasokan kumulatif apartemen yang sudah dibangun di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) mencapai 149.191 unit. Pada periode April-Juni 2015, pengembang meluncurkan 21 proyek baru sehingga menambah pasokan kondominium ‘ sampai dengan 2019 menjadi 186.986 unit.

Suplai apartemen ke depan didominasi oleh proyek untuk segmen menengah sebesar 40,9%, diikuti kelas menengah bawah 24,3%, kemudian kelas menengah yang berkontribusi 36,1%, kelas menengah atas sebanyak 2,1%, dan kelas atas 1,7%.

(Rivki Maulana & Hafiyyan)

Bisnis Indonesia | Jum’at, 07 Agustus 2015 | Hal. 29