RI Tetap Ikuti World Expo Milano

Back to Home

Walau keikutsertaan di acara itu murni swasta, pemerintah tidak lepas tangan dan memutuskan Artha Graha Peduli turut membantu.

Keikutsertaan Indonesia dalam acara World Expo Milano 2015, Italia, dipastikan terus berlanjut kendati aktor Didi Petet telah meninggal dunia. Peran almarhum Didi Petet dalam terlibatnya Indonesia pada acara yang berlangsung pada Mei-Oktober 2015 itu cukup bermakna. Pasalnya, dia menjabat sebagai Ketua Koperasi Pelestarian Budaya Nusantara (KPBN), organisasi yang punya andil membuat Indonesia terlibat di perhelatan itu.

“Kita (Indonesia) tetap ikut. Masih terus dicari dana sponsor dari swasta dan Kementrian Perdagangan (Kemendag),” ujar Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf saat dihubungi kemarin.

Hal senada disampaikan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementrian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak. Nus mengklaim pihaknya sudah berhasil mengajak sejumlah perusahaan untuk menggelontorkan dana agar Paviliun Indonesia di ajang tersebut bisa terus berlanjut. “Saya tidak ingat perusahaannya apa saja, tetapi yang perlu diketahui, masih ada beberapa sponsor yang dananya belum tercairkan, jadi masalah pendanaan saya rasa tidak ada masalah”

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengungkapkan hal ini sejatinya bukan masalah besar. “Itu bukan masalah dan tidak terjadi korupsi. Hal itu juga sudah dibantah oleh pihak mereka sendiri sebab proyek tersebut merupakan proyek swasta dan bukan proyek pemerintah sehingga tidak ada uang pemerintah yang keluar,” terang Gobel.

Kendati keikutsertaan di acara itu murni swasta, Gobel mengatakan pemerintah tidak lepas tangan.

Buktinya, dari kunjungannya ke Turki, dia sempat mampir ke Milan untuk menyelesaikan masalah itu. Diputuskan Artha Graha Peduli (AGP) mendukung pengelolaan di bawah KPBN, tetapi tidak termasuk utang-utangnya.

Korupsi

Pada kesempatan itu, Triawan menjelaskan, ketika berencana membangun Paviliun Indonesia pada ajang pameran tersebut, almarhum Didi Petet memperkirakan membutuhkan dana minimal Rp.54 miliar agar acara itu bisa berjalan. Namun, hingga menghembuskan napas terakhir, mendiang baru bisa mengumpulkan dana sekitar Rp.30-an miliar.

Lantaran dana kurang, timbul kabar kondisi paviliun kita di sana hasilnya menyedihkan. Bahkan, tambah Triawan, timbul juga isu korupsi yang dilakukan oleh panitia Indonesia.

Setelah melakukan pengecekan, Triawan menyampaikan bahwa kabar dan isu itu tidak benar. Buktinya, Paviliun Indonesia dikunjungi 11 ribuan orang perhari. Selain itu, biaya untuk mengisi acara di paviliun tersebut memang sangat mahal. Dia mencontohkan, untuk membangun konstruksi paviliun dan membayar model-model Eropa untuk memperagakan busana-busana asal Nusantara memang tidak murah.

“Baru dua hari digelar saja, panitia sudah habis dana Rp.900 juta untuk membayar model,” terang dia.

Keikutsertaan Indonesia di ajang yang diikuti oleh 146 negara itu merupakan kenekatan mendiang Didi Petet. Pasalnya, pemerintah di era Susilo Bambang Yudhoyono sudah memutuskan untuk tidak ikut untuk acara tersebut. Namun, Didi Petet memutuskan ikut dengan mencari sponsor sendiri.

(Arv/Dro/H-4) Fetry Wuryasti fetry@mediaindonesia.com

Sumber : Media Indonesia | Senin, 18 Mei 2015 | halaman 13