Revitalisasi Pulau Pudut Diperlukan

Back to Home

 

Untitled

FPMB Gelar Aksi Penanaman Mangrove

Menjaga dan merawat lingkungan Bali sangat muskil dilakukan hanya dengan koar-koar di jalan—sekedar untuk mencuri atensi publik. Butuh aksi nyata, memang. Seperti yang dilakukan Forum Peduli Mangrove Bali (FPMB). Tanpa basa-basi, mereka melakukan aksi penanaman mangrove di sekitar Pulau Pudut yang kian hari keadaannya mengkhawatirkan.

 

DENPASAR-Fajar Bali

Penolakan terhadap rencana revitalisasi Pulau Pudut. di Tanjung Benoa, Badung oleh komunitas dan LSM yang mengaku-ngaku peduli lingkungan, dinilai sengaja dilakukan karena tak ingin melihat Bali berkembang, maju dan modern. Apalagi, se­lama ini. penolakan hanya dilakukan oleh segetintir orang saja yang tak pernah jelas aksi nyatanya untuk lingkungan Bali.

Ketua LSM GASOS Lanang Sudira menegaskan, seharusnya orang-orang yang menolak revitalisasi Pulau Pudut tersebut memahami terlebih dahulu keadaannya di lokasi. “Jangan langsung main tolak. Padahal, belum dipelajari apa dampak dan manfaatnya,” ujarnya saat ditemui di sela-sela penanaman mangrove yang dilakukan Forum Peduli Mangrove Bali (FPMB) di sekitar Pulau Pudut Tanjung Benoa, Badung Iumat kemarin (29/11).

Lanang meneruskan, re­vitalisasi ini memang harus dilakukan mengingat ketinggian air di Pulau Pudut dan sekitarnya semakin meningkat. “Apabila tak di­revitalisasi pulau ini akan tenggelam. Kami mendesak agar Pulau Pudut segera di­revitalisasi, karena kian hari makin mengkhawatirkan” sebutnya.

Dalam kesempatan itu, La­nang juga menyarankan agar semua pihak menahan diri dan tidak melakukan protes atau penolakan terhadap rencana revitalisasi Pulau Padut. “Yang menolak itu tidak ingin meli­hat Bali maju. Padahal, dampak ekonomi sangat besar sekali nantinya,” katanya.

Sementara itu Ketua FPMB Heru Budi Wasesa mengata­kan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian pihaknya bersama PT. Danayasa dalam melestarikan pohon man­grove. “Kedepannya, akan ada perusahaan-perusahaan lain yang ikut diam kegiatan ini,” sebutnya.

Heru melanjutkan, se­lama ini pihaknya sudah melakukan kegiatan menanam pohon mangrove setiap harinya. Hingga kini tercatat sudah 25 ribu bibit mangrove ditanam. “Dari bulan juni, kegiatan ini dilakukan setiap hari. Bibit pohon yang sudah tertanam sekitar 25 ribu”, katanya.

Dari 25 ribu bibit mangrove tersebut, jelas Heru, sudah ditanam dan disebar di beberapa kawasan selain Tanjung Benoa seperti di jimbaran, Benoa, Kedonganan, Tuban dan Su­wung. “Kita akan konsentrasi di sisi perawatan bibit-bibit mangrove ini,” sebutnya.

Sementara itu, Bendesa Tanjung Benoa I Nyoman Wana Putra mengungkapkan apre­siasinya atas kegiatan penana­man bibit mangrove. “Kami terbantu dengan acara-acara seperti ini. Karena kendala kami masih seputar dana untuk merawat tanaman-tana­man mangrove disini. FPMB kegiatannya sangat nyata,” ujarya.

Wana Putra menambahkan, bibit mangrove yang ditanam di areal Tanjung Benoa ini diharapkan sebanyak-ban­yaknya. “Kita tahu bersama bahwa mangrove sangat ber­fungsi untuk menahan abrasi. Semakin banyak menanam mangrove semakin bagus.” tutupnya.

 

Sumber:

Berita cetak Koran, Fajar Bali

Tanggal 30 November 2013

Halaman              : 1 & 15