Penyerapan Apartemen Dikuasai Investor

Back to Home

Jakarta, KOMPAS – Penyerapan apartemen di Jakarta tahun ini diprediksi menurun seiring kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan dengan penyesuaian nilai jual objek pajak. Penyerapan apartemen saat ini cenderung dikuasai investor.

Direktur Penyewaan dan Penjualan Residensial Colliers Internasonal Indonesia Aleviery Akbar, di Jakarta, Jumat (11/4), mengemukakan, penjualan apartemen kemungkinan mulai terkoreksi sebagai dampak kenaikan nilai jual objek pajak (NJOP). Selama triwulan I-2014, penyerapan proyek baru apartemen yang dalam tahap awal penjualan sebesar 72,6 persen atau turun 1,5 persen dibandingkan dengan triwulan IV-2013.

Kenaikan harga jual apartemen pada tahun ini diperkirakan hanya 10 persen atau terkoreksi dibandingkan dengan tahun lalu sekitar 20 persen. Koreksi tingkat kenaikan harga itu, antara lain, dipacu kenaikan NJOP.

“Penyerapan apartemen kemungkinan terlihat menurun mulai triwulan II tahun ini. Kenaikan harga jual apartemen kian tertekan karena dinilai sudah terlalu tinggi.” ujar Aleviery.

 

Dominasi Investor

Direktur Riset Colliers international Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan, kepemilikan apartemens sudah didominasi investor. Apartemen menjadi komoditas. Hal ini ditandai dengan kecenderungan investor melihat pertambahan nilai, lalu menjual atau menyewakan unit apartemennya.

Hal senada dikemukakan Aleviery. penguasaan kepemilikan apartemen oleh investor tersebar dari apartemen menangah hingga menengah atas.

Kebijakan Bank indonesia menaikkan batasan loan to value (LTV) sebesar 50 persen untuk rumah kedua dan LTV 60 Persen untuk tumah ketiga serta larangan inden untuk kredit pemilikan rumah kedua dan seterusnya tidak berpengaruh pada pasar apartemen.

Penguasaan investor itu ditunjang kemudahan cara pembayaran yang ditawarkan pengembang mulai dari cicilan uang muka hingga cicilan pembayaran bertahap. Di apartemen kelas menengah, konsumen dapat membayar uang muka dengan cicilan hingga tiga tahun, baru dilakukan pengajuan kredit pemilikan apartemen (KPA).

Selama triwulan I-2014, cara pembayaran apartemen didominasi tunai bertahap, yaitu 63 persen, tunai keras 21 persen dan KPA hingga 16 persen. Pola pembayaran lewat KPA bahkan menunjukkan penurunan jika dibanding tahun 2013, yaitu 20 persen.

Saat ini, harga apartemen baru di selatan Jakarta dan pusat bisnis Jakarta berkisar Rp 25 Juta – Rp 60 Juta per meter persegi dengan luas hunian 50 meter persegi – 120 meter persegi.

Dampak dari harga apartemen di Jakarta yang semakin mahal, pembangunan apartemen di kawasan pinggiran Jakarta terus tumbuh.

Pembangunan hunian vertikal di kawasan timur Jakarta menyasar masyarakat kelas menengah. Dalam waktu enam tahun, nilai jual satu unit apartemen, seperti Sentra Timur Residence, naik hingga 300 persen.

Pertama kali dipersarkan pada 2008, harga satu unit apartemen sekitar Rp 90 Juta. Saat ini, satu unit dibandrol Rp 270 juta hingga Rp 400 Jutaan. Saat ini, 1,100 keluarga telah menghuni tiga dari lima menara yang sudah berdiri.

Tahun ini, menara keenam akan dibangun dan diperkirakan selesai pertengahan 2016. Jumlah keseluruhan unit apartemen sebanyak 2306 unit.

“Sebagian besar penghuninya adalah keluarga muda,” jelas Manager Pengembangan Bisnis Sentra Timur Hermon Simanjuntak. (A12/LKT)

 

Sumber: Media Cetak Kompas Tanggal 12 April 2014