Penghargaan Konservasi Panthera – Harimau Sumatera Terancam Punah

Back to Home

Setelah harimau bali dan harimau jawa yang telah punah di endemiknya, kini harimau sumatera juga terancam punah jika tidak ada perlindungan serius dari semua pihak. Punahnya satwa langka ini juga menandakan berkurangnya kawasan hutan serta perambahan dan alih fungsi hutan serta perburuan satwa langka masih terjadi.

Namun, masih banyak pihak yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan keberlangsungan ekosistem, termasuk satwa langka. Mereka harus melawan ketidaktahuan terhadap lingkungan. Untuk itu, organisasi international peduli lingkungan dan satwa Panthera member penghargaan khusus kepada sejumlah tokoh dan lembaga yang terus berupaya menyelamatkan lingkungan, termasuk satwa langka harimau sumatera.

CEO Panthera Alan Rabinowitz menyerahkan penghargaan Konservasi Harimau kepada Menteri Kehutanan Zulkifi Hasan, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, Executive Chairman of the National Council on Climate Charge Rachmat Witoelar, Pemerintah daerah Lampung dan Tambling Wildlife Nature Conservation, di Jakarta, Rabu(16/7).

Acara ini dihadiri sejumlah tokoh, pakar, dan lembaga swadaya masyarakat prolingkungan, serta pimpinan Tambling Wildlife Nature Conservation, Tomy Winata. Bersamaan dengan itu digelar diskusi tentang harimau yang diikuti sejumlah pakar dan LSM dari beberapa Negara. Program Harimau Abadi Panthera dilaksanakan di 14 Lokasi di 6 Negara Asia, termasuk Indonesia.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan memaparkan, sebenarnya Indonesia memiliki tiga dari delapan subspesies harimau yang ada didunia, namun dua diantaranya, yaitu harimau jawa (Panthera tigris sondaica)dan harimau bali (Panthera tigris balica), telah dinyatakan punah, masing-masing pada 1940-an dan 1980-an. Saat ini hanya sub-spesies harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang tersisa dan terancam punah.

“Punahnya harimau bali dan harimau jawa harus menjadi perhatian kita semua agar hal ini tidak terjadi pada jenis spesies harimau sumatera yang masih hidup. Punahnya harimau jawa dan harimau bali akibat perburuan dan akibat kepadatan penduduk yang mendorong kebutuhan lahan untuk pemukiman, pertanian, perkebunan, dan infrastruktur perkotaan. Akibatnya, habitat harimau, yaitu hutan-hutan dataran rendah, berkurang drastris,” ujar Zulkifli.

Oleh karena itu, kata Zulkifli, sebagai satu-satunya negara pemilik sub spesies harimau sumatera yang tersisa di pulau Sumatera, maka sudah seharusnya pemerintah beserta para pihak pemangku kepentingan untuk mengawasi konservasi hutan alam dataran rendah dan hutam gambut. Moratorium ini untuk melestarikan habitat-habitat satwa endemic, termasuk harimau sumatera.

 

Konservasi darat dan laut

Selain itu, katanya, pemerintah melakukan kerja sama penegakkan hokum dalam memerangi perdagangan illegal harimau, maupun bagian-bagian tubuh harimau yang diawetkan, pertukaran informasi antarnegara anggota tang memiliki harimau maupun Negara yang menjadi tujuan dari perdagangan illegal harimau.

Tomy Winata menjelaskan, keberadaan Yayasan Artha Graha Peduli di Tambling karena kepedulian untuk menyelamatkan alam dan lingkungan, antara lain dengan melakukan konservasi di lahan daratan seluas 40.000 hektar (HA) dan kawasan pesisir seluas 15.000 ha.

Pihaknya didukung banyak pihak dan menyisihkan dana sekitar US$ 2 juta(Rp 24 Miliar) pertahun untuk konservasi di Tambling. Di kawasan ini terdapat sekitar 5.000 jenis satwa, termasuk yang berada di danau dan laut, CEO Panthera yang juga ilmuan harimau Dr Alan Rabinowitz mengungkapkan, awalnya jumlah harimau sumatera di Tambling berdasarkan pemantauan jejak dan foto trap ada 24 ekor, saat ini telah bertambah menjadi 36 ekor.

Menurutnya, upaya konservasi ini akan memberi dampak positif pada perlindungan hutan dan satwa langka lainnya di Sumatera, khususnya Tambling. Dia juga mengungkapkan, sekitar 100 tahun lalu ada 100.000 ekor harimau liar di Asia, kini tersisa hanya sekitar 3.000. dari 6 sub-species, 3 telah punah. [S-26]

 

Sumber media cetak Suara Pembaharuan

Tanggal : 17 Juli 2014