Pasar Properti akan Masuk Fase Baru

Back to Home

Oleh Edo Rusyanto

JAKARTA – Pengamat properti menilai bahwa perlambatan yang dialami industri properti saat ini adalah titik terendah. Kondisi itu akan dilalui dan properti Indonesia memasuki fase baru. Di sisi lain, praktisi menilai bahwa kondisi pelemahan saat ini dapat dimanfaatkan untuk berekspansi.

“Kondisi saat ini merupakan sebuah siklus alamiah pasar properti yang harus dilalui dan pengembang tidak perlu manja. Karena pasar properti akan memasuki fase baru siklus properti,” ujar pengamat properti Ali Tranghanda, dalam laman Indonesia Property Watch (IPW), Selasa (1/9).

Dia memaparkan, perlambatan pasar properti semakin dirasakan memasuki awal 2015 hingga kini. Perlambatan ini, kata dia, sebenarnya telah diprediksi oleh IPW. “Malah, tahun 2009 kami telah memperkirakan pasar properti akan bangkit sampai menuju booming-nya tahun 2013. Namun banyak pihak yang tidak percaya,” sergahnya.

Tahun 2013, tambah dia, ketika benar terjadi booming properti, IPW menyarankan pelaku properti berhati-hati akan terjadi perlambatan pada 2014 dan memasuki titik terendah pada 2015. “Makin banyak yang tidak percaya. Dan, kenyataannya saat ini pasar properti memang berada di titik terendah,” tegas Ali Tranghanda.

Menurut dia, hal ini juga terkait dengan perekonomian Indonesia yang belum pulih. Ali berharap masyarakat bisa membedakan jatuhnya perekonomian karena fundamental yang lemah dengan melemahnya perekonomian karena belanja negara yang sangat besar. “Mungkin kondisi saat ini menggambarkan kondisi kedua dengan pembelanjaan negara di sektor infrastruktur yang sangat luar biasa,” katanya.

Ali menambahkan, pemerintah saat ini berpikir jangka panjang dan tidak hanya melihat sebagai periode pemilu lima tahun. Karena, ujarnya, dampak infrastruktur akan sangat menjanjikan untuk pertumbuhan ekonomi negara dalam jangka panjang.

Direktur Eksekutif IPW itu juga mengajak masyarakat untuk bersyukur di tengah pelambatan sektor properti. Alasannya, jika properti terus mengalami peningkatan yang pesat dan harga naik tidak terkendali, malah akan membuat kesenjangan semakin tinggi dalam jangka waktu yang relatif singkat. Dan, hal itu akan merusak pasar properti dengan sendirinya. “Dengan kondisi adanya relaksasi dalam bisnis properti, maka pasar akan mencari keseimbangan baru. Di sisi lain pasar perumahan menengah bawah di semester pertama 2015 mulai memperlihatkan peningkatan permintaan,” tuturnya.

Dia beranalogi, ketika kita berada di atas kadang kurang waspada dan lengah, padahal mungkin saja ada jurang di depan kita. Namun demikian dengan kondisi properti di titik terendah, di depan kita akan melihat puncak properti lagi, akan ada kebangkitan pasar properti di depan kita. Indonesia tidak bisa mengesampingkan siklus properti yang ada.

Saran Ekspansi

Sementara itu, pendiri Ciputra Group, Ciputra menyarankan pengembang untuk terus berekspansi di tengah pelemahan ekonomi. Ekspansi dilakukan guna meng-antisipasi booming properti pada masa mendatang.

“Selain konsolidasi, juga harus ekspansi haus dilakukan. Tapi ekspansinya secara terukur sebagai persiapan untuk menghadapi booming,” ujar Ciputra di sela pemberian penghargaan Lifetime Achievment Award dalam ajang Golden Prorperty Award, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Ali, di tengah pelemahan ekonomi, hanya pengembang yang mampu membidik pasar dengan cermat dan inovatif yang akan bertahan. Pada 2014, kata Ali, dia sudah memprediksi bakal terjadinya pele¬mahan properti. Namun, saat itu, banyak pengembang yang tidak percaya. Kendati demikian, Ali optimistis masa recovery properti segera membawa hasil.

Ciputra mengatakan, pelemahan ekonomi saat ini menyerupai krisis ekonomi 2008. Namun, dampaknya belum sekuat kiris ekonomi 1997. “Kondisi 1997 tidak ada bandingannya. Itu (seperti) tsunami,” kata dia.

Agar industri segera bangkit, Ciputra meminta pemerintah untuk menganggap properti sebagai faktor penting bagi pembangunan negara. “Pemerintah harus menempatkan properti sebagai mitra. Properti sangat menentukan perkembangan negara. Sangat menentukan . Kalau itu terhalang, maka negara akan berat, seperti sekarang ini,” tegasnya.

Pengaruh industri properti, menurut Ciputra, sangat luas. Jika properti terganggu oleh pelemahan ekonomi, maka ada 150 industri lain yang ikut terpengaruh. Oleh karena itu, properti harus dipelihara dengan baik.

Bagi Ketua Umum DPP REI Eddy Hussy, perlambatan properti hanya terjadi dalam jangka pendek. Setelah pemerintah mengucurkan anggaran pembangunan infrastruktur dan yang lain, maka perekonomian akan terangkat.

Investor Daily | Rabu, 02 September 2015 | Hal. 23