Meraup Kesenangan di Jantung Ibu Kota

Back to Home

Kawasan SCBD

Kompas | Sabtu, 28 Mei 2016 | Hal. 28

Pengunjung menghabiskan waktu di The Good Dinner kawasan Niaga Terpadu Sudirman (SCBD), Jakarta Selatan, Kamis (27/5). Kompas/Hendra A Setyawan (HAS) 27-05-2016 untuk tulisan Jalan-Jalan

Pengunjung menghabiskan waktu di The Good Dinner kawasan Niaga Terpadu Sudirman (SCBD), Jakarta Selatan, Kamis (27/5).

OLEH : HARRY SUSILO / IRENE SARWINDANINGRUM / SAIFUL RIJAL YUNUS

Malam di Sudirman Central Business District, orang tak hanya bisa membeli makanan dan minuman khas dari berbagai belahan dunia. Namun, juga bisa menikmati suasana nyaman dibingkai pepohonan dan taman-taman kota, bersembunyi di antara gedung perkantoran yang seolah tengah dibuai lelap.

Saat kemacetan sore mulai mendera jalanan Jakarta, Kawasan Niaga Terpadu Sudirman (Sudirman Central Business District/SCBD), Jakarta Selatan, pun mulai berganti rupa. Dari area yang berderap dengan aktivitas perkantoran pada siang hari, kawasan di jantung Ibu Kota itu beralih menjadi tempat melepas penat. Saatnya santai dan bersenang-senang. ‘

Senja pun disambut dengan happy hours di sana. Para pekerja, eksekutif muda, dan pekerja asing (ekspatriat) mengalir dari gedung-gedung perkantoran ke restoran dan kafe yang berpendar dengan lampu-lampu temaram dari balik pepohonan.

Mereka berjalan dengan nyaman di trotoar-trotoar lebar. Keunggulan tempat itu adalah hampir semua tempat berada dalam jarak berjalan sehingga orang tak perlu repot-repot berkendara, apalagi terjebak kemacetan.

Banyak di antara para pekerja ini berburu tawaran happy hours yang bisa diterjemahkan bebas sebagai jam-jam bahagia karena adanya tawaran promo. Selama happy hours yang rata-rata berlangsung hingga pukul 20.00, sejumlah menu, khususnya minuman, ditawarkan dengan potongan harga.

Di kawasan SCBD memang banyak bercokol kantor perusahaan dan organisasi multinasional dengan pekerja asing, khususnya dari negara Barat, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Mereka banyak mencari minuman beralkohol sesuai dengan budaya di negaranya. Hampir setiap kafe dan restoran menawarkan beragam jenis minuman beralkohol, tentunya dijual secara legal dengan batasan usia.

Namun, memanfaatkan harga murah di happy hours bukan tujuan utama. Berbagai alasan membuat mereka tak langsung pulang dan tinggal di sana Ada yang ingin sekadar ngobrol dengan teman, bertemu klien, melepas ketegangan hasil seharian bekerja, hingga bersantai atau makan malam sembari menung- gu kemacetan reda. Alasan terakhir cukup mendominasi.

Bennedicta Kirana (34) yang bekerja di salah satu organisasi asing di sana menuturkan, hampir setiap pulang kantor, dirinya mampir di salah satu restoran atau kafe di sana hingga jam-jam macet berakhir. “Macetnya parah luar biasa di jam-jam segitu. Lebih baik saya nunggu sambil bersantai daripada stres di jalan,” kata perempuan yang tinggal di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, itu.

Menurut Benedieta, ia juga sering bersantai di sana terlepas dari kegiatannya di kantor. Suasana yang teratur, mudah dijangkau, dan nyaman ini menjadi keunggulan SCBD dibandingkan dengan tempat nongkrong lain di Jakarta yang rata-rata sudah padat, seperti Kemang. Selain itu, juga ada tempat-tempat lain, seperti sasana olahraga dan pusat perbelanjaan, yang bisa menjadi variasi berkegiatan.

Semakin larut, para pekerja yang rata-rata berusia muda itu berbaur dengan pengunjung lain. Ada yang datang berjalan kaki dari hunian yang ada di dalam kawasan, ada yang datang dari luar kawasan.

Beragam

Keunggulan lain adalah banyaknya pilihan suasana yang semua terjangkau dengan jalan kaki. Sebut saja kafe terbuka, restoran bernuansa santai seperti rumah, sudut-sudut untuk ngopi dengan dekorasi artistik bertema retro hingga urban dengan iringan musik lembut.

Ada juga beberapa restoran yang dipadu dengan ramuan musik dari para disc jockey (DJ) yang berdentam hingga larut malam. Lucy in The Sky merupakan salah satu yang paling terkcnal dengan desainnya yang unik, berada di ruang terbuka di atap. Namun, restoran di kompleks Fairground itu tutup beberapa waktu terakhir karena tengah dalam proses pemasangan lapisan kedap suara.

Tak hanya minuman, berbagai jenis makanan dari berbagai belahan dunia juga tersedia di sana. Dari masakan Bali, Manado, hingga Belanda, Perancis, Amerika, Jepang, India, dan Thailand.

Beberapa restoran berada di kompleks Fairground. Gedung berbentuk mirip piramida ini dulunya dikenal sebagai Bengkel Cafe yang menjadi tempat nongkrong elite anak-anak muda Jakarta. Saat ini, di sana ada beberapa tempat, makan. Salah satunya adalah The Good Diners yang dibuka sejak 2012.

Malam di Sudirman Central Business District, orang tak hanya bisa membeli makanan dan minuman khas dari berbagai belahan dunia. Namun, juga bisa menikmati suasana nyaman dibingkai pepohonan dan taman-taman kota, bersembunyi di antara gedung perkantoran yang seolah tengah dibuai lelap.

Restoran yang mengusung konsep California melting-pot style comfort food ini mempunyai beberapa menu andalan, seperti coffee rubbed burger, pan seared Norwegian salmon, dan piccolo latte. Menu coffee rubbed burger merupakan menu cukup unik, yaitu burger dengan isian daging yang sebelumnya diisi kopi dengan bagian roti bun diolesi selai buah raspberry. Paduan rasa yang cukup membuat penasaran.

Stella Griensiria dari The Goods Dept mengatakan, pelanggan The Goods Diner didominasi para ekspatriat hingga pengusaha muda. Pada siang dan sore, mereka datang untuk makan siang atau bertemu rekan bisnis ditemani kopi atau teh. Sementara malam hari, pelanggan rata-rata datang bersantai bersama tem- an-teman.

Pada akhir pekan, The Goods Diner menyediakan menu sarapan menjelang makan siang atau brunch menu. Waktu puncak kunjungan akhir pekan hampir berlangsung sepanjang hari, mulai pukul 08.00-10.00, umumnya keluarga yang datang setelah berolahraga atau sekadar bersantai, dilanjutkan dengan waktu makan siang pukul 11.00-14.00 dan makan malam pukul 19.00-02.00 dini hari. Pada akhir pekan, restoran ini juga menghadirkan DJ berekspresi menemani pengunjung.

Ada juga Lot 8 yang menyediakan beragam masakan populer Indonesia dan internasional. Lot 8 menyediakan suasana santai seperti di rumah, beberapa kali dalam sepekan dengan iringan musik akustik dan DJ. Tempat berkapasitas 100-150 orang ini juga menyediakan ruang untuk menggelar acara.

Menu yang cukup menarik dicoba, mulai dari nasi goreng kambing, Norwegian salmon, hingga camilan seperti sayap ayam. Untuk minuman ada minuman ringan, milkshake, dan yang beralkohol. Harga menu makanan utama pun cukup terjangkau bagi kalangan pekerja kantoran yang berkisar Rp 35.000 hingga Rp 150.000.

Pambudi Hermawan Manajer Lot 8 mengatakan, puncak keramaian tetap akhir pekan. Pengunjung beragam, mulai remaja hingga usia diatas 30-an Sekitar 20 persen ekspatriat. Jika beruntung, bakal menjumpai ekspatriat asal India dan Tiongkok menyanyikan lagu tradisional negaranya di tempat itu. “beberapa kali terjadi,” kata Pambudi yang pernah bekerja sebagai chef di Qatar dan Abu Dhabi itu.

Merogoh kocek

Superblok Sudirman ini memang bukan sekadar area perkantoran. Di sejumlah sisi kawasan ini menyimpan tempat memanjakan lidah dengan suasana yang beragam. Dari kafe kelas menengah hingga tempat nongkrong kaum jetset. Jadi patut diingat, jangan cari nasi pecel di tempat ini.

Tengoklah saat akhir pekan tiba, kawasan ini menjelma seperti ruang pamer mobil mewah. Di jalan-jalan yang mengitari kawasan seluas 45 hektar ini biasa ditemui raungan Lamborgini, Ferrari, atau Bentley.

Antrean pengunjung di sejumlah kafe yang “naik daun” bukan hal luar biasa. Alunan musik terdengar di sejumlah tempat, seperti mengubah tempat ini menjadi tempat nongkrong yang mahaluas.

“Paling sering bareng teman kampus. Sukanya itu karena suasana kawasan dan tempat-tempatnya yang asyik. Tapi memang, terbatas untuk kalangan tertentu,” ucap Indra (30), yang minimal datang sekali dalam sebulan di SCBD.

Kawasan SCBD ini, kata Indra, memang cukup mahal ketimbang kawasan yang memiliki banyak tempat nongkrong. Harga makanan, minuman, dan tarif parkir relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di tempat lain

Mereka yang datang ke kawasan ini juga mencerminkan kelas mcnengah ke atas. Tempat-tempat eksklusif dan orang-orang dengan gaya hidup jetset dengan gampang ditemui berseliweran di tempat ini. “Tapi memang sesuai dengan suasananya. Apalagi, kafe-kafe di sini paling sering muncul di sosial media,” ucapnya.

Salah satu kafe di SCBD ini, tambah Indra, cukup berkesan bagi dia dengan Devie (26), pasangannya, yang baru dinikahi beberapa bulan lalu. Beberapa tahun lalu, Indra merayakan hari ulang tahun Devie di salah satu kafe di kawasan SCBD ini. “Itu saat yang spesial karena saya baru kerja dan harus keluar banyak uang untuk nge-date, ha… ha… ha…,” katanya.

Kawasan SCBD dikenal sebagai kawasan elite. Tak heran, untuk membeli suasana malam di sana perlu merogoh kocek cukup dalam. Sekali duduk, pengeluaran minimal sekitar Rp 100.000 hingga tak terbatas. Elitenya tempat ini terlihat lebih jelas saat sejumlah selebritas Ibu Kota dengan mudah dijumpai sedang nongkrong atau sekadar makan di kafe-kafe.

Kendati mahal, pada akhir pekan, tempat itu tetap ramai. Bagi banyak remaja, berada di sana merupakan bentuk pernyataan eksistensi sebuah pernyataan keren. “Banyak anak muda yang datang ke sini, lalu foto-foto selfie dan diunggah di media sosial mereka,” kata Irwan Pratama, salah satu manajer di Goods Diner.

Menghabiskan banyak uang memang jadi salah satu pilihan ketika berada di SCBD. Namun, halte bus di sana pun menyediakan tempat yang cukup nyaman untuk menikmati keheningan malam di jantung Jakarta. Sementara Star Bike atau istilah pelesetan untuk kopi dari bapak-bapak penjual keliling bersepeda bisa cukup menghangatkan suasana.