Lima Negara Investor Minati Properti Indonesia

Back to Home

Oleh : Pamudji Slamet

JAKARTA – Properti Indonesia semakin diminati oleh warga negara asing. Terdapat lima negara investor yang warganya sangat mencintai properti di Tanah Air.

Kelima negara tersebut adalah Amerika Serikat, India, Singapura, Malaysia dan Thailand. Managing Director Lamudi Indonesia, portal properti global, Steven Ghoos mengatakan, minat para warga negara asing itu terlihat dari kunjungan mereke ke situs Lamudi, guna mencari infotrmasi tentang properti Indonesia.

“Situs kami menjadi gerbang untuk warga negara asing (WNA) yang mencari tempat tinggal selama mereka bermukim di Indonesia,” ujar Steven seperti dikutip dari siaran pers, yang diterima di Jakarta, Senin (5/10).

Para pencari properti dari luar negeri sebagian besar mencari real estate sewaan sebagai tempat tinggal mereka selama di Indonesia. Daerah yang paling dicari adalah Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya dan Bali. Dalam data Lamudi, ada lima negara yang paling sering mencari properti di Indonesia.

Negara pertama adalah Amerika Serikat (AS). Pada bulan lalu, sesuai data Lamudi, terdapat lebih dari 3,5% pengunjung (viewer) baru dari AS. Dari seluruh pengunjung situs Lamudi, sebanyak 2,5% berasal dari kunjungan warga AS. Minat warga AS kepada properti Indonesia semakin kuat setelah muncul pem-beritaan bahwa Donald Trumph berencana berinvestasi di Tanah Air.

Negara berikut, yang warganya meminati properti Indonesia adalah India. Steven menjelaskan, negara ini merupakan salah satu negara yang mengembangkan usaha di berbagai bidang. Menurut Federasi Kamar Dagang dan Industri India (FICCI), proyek-proyek investasi potensial India di Indonesia meliputi mesin, perangkat listrik dan software komputer. “Data menunjukkan, rata- rata sekitar 3% pengunjung baru dari India mengunjungi situs lamudi setiap bulannya,” ujar Steven. Mereka membutuhkan informasi tentang properti di Indonesia.

Di bawah India, ada Singapura. Investor Singapura meminati residensial kondominium dan rumah tapak di Jakarta, termasuk area Sudirman, Kemang, serta Kebayoran. Sedangkan di Bali, pemburu properti dari Singapura tertarik untuk berinvestasi pada properti- properti di tepi pantai seperti vila di Nusa Dua, Sanur, Seminyak dan Jimbaran. “Lamudi mencatat setiap bulannya sebanyak 1 persen dari pengunjung baru portal berasal dari Singapura,” jelas Steven.

Tertarik Berinvestasi

Selanjutnya adalah Malaysia. Negara ini telah menjadi investor terbesar di Indonesia karena 18.6% total investasi pada semester pertama 2015 di Indonesia berasal dari Malaysia. Investasi Malaysia bervariasi, mulai dari perkebunan, industri metal hingga telekomunikasi.

Terakhir adalah Thailand. Negara ini merupakan salah satu negara yang tertarik berinvestasi di Indonesia. Awal tahun ini, negara yang populasinya mencapai 63 juta orang itu telah merilis beberapa rencana untuk berinvestasi di berbagai sektor.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah memastikan akan membuka kran kepemilikn properti bagi warga negara asing. Menurut Direktur PT Jababeka, Tbk Suteja Sidarta Darmono, banyak tenaga kerja asing yang sudah lama di Indonesia, dan ingin membeli properti. Hingga kini, keinginan itu belum terealisasi.

“Dengan keberadaann tenaga kerja asing yang besar itu, kami hanya ingin menyiapkan sebuah produk, yang bisa mengakomodasi keinginan mereka,” ujar dia

Suteja mengaku telah membicara-kan masalah tenaga kerja asing dengan salah satu kementerian. Ddalam pembicaraa itu, dia mengatakan, dari 70 ribu tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di Indonesia, sebanyak 10 ribu bekerja di kawasan Cikarang. Artinya, sepertujuh dari TKA di Indonesia, ada di Cikarang.

Hanya saja, menurut penilaian Suteja, batasan harga yang dibolehkan dibeli oleh TKA sebesar Rp 10 miliar, terlalu mahal. Apalagi, penentuan batasan harga tersebut dikaitkan dengan ketentuan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PpnBM).

“Saya sampaikan, kami melakukan survei terhadap 10 ribu TKA di Cikarang. Ternyata, tidak banyak dari mereka yang mampu membeli properti dengan harga Rp 10 miliar. Harga itu juga terlalu berat bagi orang asing. Kami perkirakan, mereka hanya mampu di harga Rp 5 miliar,” papar Suteja. Di negara tetangga, lanjut dia, properti untuk orang asing dijual dengan harga Rp 5 miliar.

Investor Daily | Selasa, 06 Oktober 2015 | Hal. 23