Koridor Sudirman Masih Primadona

Back to Home

Bisnis Indonesia | Selasa, 12 April 2016 | Hal. 27

JAKARTA — Koridor sepanjang Jalan Jenderal Sudirman Jakarta, masih akan menjadi area utama yang dibidik pengembang untuk membangun menara perkantoran baru dalam lima tahun mendatang meskipun masih dibayang-bayangi perlemahan permintaan akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Konsultan properti Colliers International Indonesia memproyeksikan wilayah Sudirman masih menjadi magnet bagi pengembang dan pemilik lahan untuk mengembangkan properti mereka. Keseriusan pemerintah untuk menyelesaikan pembangunan mass rapid transit atau MRT sepanjang Sudirman juga memberi nilai tambah bagi koridor tersebut.

Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun telah meningkatkan koefisien lantai bangunan (KLB) untuk sejumlah area di sekitar bakal stasiun MRT. Pemilik lahan di wilayah tersebut diizinkan untuk meningkatkan ukuran dan tinggi bangunan mereka.

“Sejak kuartal pertama 2016, pengembang mulai mempersiapkan lahan untuk memulai konstruksi menara perkantoran baru. Selain itu, sejumlah bangunan kecil yang telah ada pun akan dibangun kembali menjadi bangunan perkantoran high-rise di Sudirman,” ungkap Ferry Salanto, Associate Director Colliers Indonesia dalam publikasinya yang dikutip Senin (11/4).

Ferry mengungkapkan, Sudirman akan menjadi wilayah kontributor utama untuk penambahan ruang perkantoran baru di wilayah pusat bisnis atau CBD hingga 2019, di samping Jalan M.H. Thamrin dan Jalan HR Rasuna Said.

Tahun ini, akan ada dua menara perkantoran yang dijadwalkan beroperasi di Sudirman, yakni Sinarmas MSIG dan International Finance Centre 2, masing-masing 75.000 m2 dan 50.000 m2.

Total pasokan baru ruang perkantoran di CBD hingga 2019 diproyeksikan mencapai 2,1 juta m2. sebanyak 42% di antaranya dibangun di koridor Sudirman. Sudirman akan memperoleh rata-rata pasokan baru 220.000 m2 tiap tahun sejak 2016 hingga 2019, sedangkan koridor lain di CBD hanya berkisar 65.000 m2 hingga 70.000 m2 pada periode yang sama.

Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat, harga sewa kantor kelas premium di CBD pada kuartal 1/2016 menurun rata-rata sekitar 1,9% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Koreksi diprediksi terus berlanjut selama belum tercapainya keseimbangan antara permintaan dan penawaran hingga 2019 mendatang.

Head of Advisory JLL Indonesia Vivin Harsanto mengatakan, harga sewa seharusnya sudah dapat meningkat pada 2019. Namun, momen pemilihan umum pada tahun itu akan menyebabkan pasar lebih memilih melihat dan menunggu sehingga pemulihan baru akan mulai terjadi pada 2020. (Emanuel B. Caesario)