Investasi Bakal Melonjak 40%

Back to Home

JAKARTA — Badan Koordinasi Penanaman Modal optimistis pertumbuhan investasi di sektor properti pada 2015 meningkat 40% dibandingkan dengan tahun lalu.

► Realisasi hingga semester 1/2015 tercatat US$21 miliar bertumbuh 16,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

► Sektor properti yang masuk catatan BKPM mencakup kawasan industri, perkantoran, dan hunian dalam bentuk tapak ataupun vertikal.

Kepala BKPM Franky Sibarani menyebutkan realisasi investasi properti pada semester 1/2015 bertumbuh 16,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Komposisinya, penanaman modal asing (PMA) naik 16,1%, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) terkerek 17,4%.

Adapun realisasi proyek properti untuk PMA pada semester 1/2015 nilainya mencapai US$661 juta dan PMDN berjumlah sekitar Rp4,7 triliun. Pertumbuhan investasi properti sendiri sejak 2010 hingga 2014 rata-rata naik 41 % per tahun.

“Kalau, menurut saya, kenaikan 40% (tahun ini) cukup relevan karena kita menggenjot kawasan industri cukup besar. Sampai akhir tahun pertumbuhannya mungkin untuk properti bisa sama naik 40%,” ujarnya di sela-sela acara penutupan atap International Financial Tower di Jakarta, Selasa (18/8).

Franky menyebutkan definisi sektor properti yang masuk catatan BKPM mencakup kawasan industri, perkantoran, dan hunian dalam bentuk tapak ataupun vertikal. Sampai dengan semester 1/2015 jumlah pengembangan berkisar 430 proyek.

Adapun, target investasi secara keseluruhan pada 2015 sebesar Rp519 triliun. Pada paruh pertama, BKPM sudah mencatatkan realisasi sebesar 50%. Franky memperkirakan target tersebut bisa tercapai bila pada triwulan ketiga pertumbuhan naik lebih dari 15% per kuartal.

Untuk menggenjot pencapaian target, BKPM berkomitmen melakukan tiga hal untuk memperbaiki iklim investasi, yakni memperbaiki perizinan dengan sistem pelayanan terpadu satu pintu dengan proses konsolidasi di tingkat kabupaten/ kota, realisasi kemudahan perizinan investor di daerah, dan memperbaiki kebijakan, seperti tax allo-wance dan tax holiday untuk mengundang datangnya investor.

Khusus di sektor properti, sejak Mei 2015, pihaknya meluncurkan kemudahan proses pendaftaran proyek dari 25 hari menjadi hanya 11 hari. Franky pun mengundang pengembang asing untuk mendiskusikan rencana pengembangannya selama lima tahun ke depan di Indonesia.

SIAP BERSAING

Dia berpendapat semakin banyaknya suplai properti dalam kategori kelas atas menunjukan Indonesia siap bersaing dengan Singapura dan Hong Kong.

Menurut Franky, masuknya PMA properti ke dalam negeri bukan hanya karena melihat potensi pasarnya, melainkan juga jumlah tenaga kerja produktif indonesia yang sangat besar. Adanya dua faktor tersebut mampu menjamin investor untuk terus menanamkan modal.

Adapun tiga negara yang gencar mengembangkan properti mereka di Indonesia ialah Singapura, Jepang, dan China. “Jepang melakukan perluasan, contohnya Toyota Housing. China masuk kawasan industri cukup banyak. Ada juga Korea Selatan, tapi tiga besarnya Singapura, Jepang, dan China,” imbuhnya.

Berdasarkan data yang dilansir BKPM pada akhir tahun lalu, tren realisasi penanaman modal di sektor properti, baik dari investor dalam negeri maupun asing selama lima tahun terakhir menunjukkan kecenderungan meningkat. Bahkan, selama kuartal pertama sampai dengan ketiga 2014, realisasi investasi asing dan dalam negeri memperlihatkan perbandingan yang seimbang.

BKPM mencatat realisasi PMDN di sektor properti hingga kuartal 111/2014 mencapai Rp9,6 triliun, sedangkan realisasi PMA pada kurun waktu yang sama sebesar US$806 juta.

“Jumlah PMDN dan PMA hampir mencapai jumlah yang seimbang yaitu sekitar Rp 10 triliun. Rasio itu [1:1] lebih bagus dibandingkan dengan sektor lainnya, di mana PMA lebih besar dibandingkan dengan PMDN yaitu 2:1,” kata Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM Himawan Hariyoga. (Bisnis, 19 Des. 2014)

Himawan menambahkan nilai PMDN pada sektor properti menempati peringkat keempat dibandingkan dengan puluhan sektor lainnya, sedangkan PMA sektor properti menempati urutan kedelapan.

Kendati berkesan saling kebut-kebutan antara investor lokal dan asing, kondisi tersebut dipandang baik bagi investasi di Indonesia. Pasalnya, prinsip dasar modal asing hanya sebagai pelengkap, bukan modal utama.

“Dalam negeri harusnya kan kita yang kuasai dan kita yang mengerti kondisi pasar bukan sebaliknya.”

Himawan menjelaskan hingga kuartal III/2014, realisasi jumlah proyek hasil garapan investor domestik berjumlah 42 proyek, sedangkan asing sebanyak 187 proyek yang tersebar di seluruh Indonesia. 0

Bisnis Indonesia | Rabu, 19 Agustus 2015 | Hal. 29