Indonesia Kekurangan Sarjana Teknik untuk Pembangunan

Back to Home

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia mengalami kelangkaan sarjana teknik untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Berdasarkan data Kementerian Pen­didikan dan Kebudayaan, Indo­nesia hanya meluluskan 42.000 sarjana teknik per tahun.

“Menurut Kementerian Pe­kerjaan Umum, Indonesia membutuhkan 175.000 insinyur untuk membangun negeri,” kata Rektor Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) M Arnan Wira­kartakusumah, di Jakarta, Jumat (21/3). USBI menandatangani kerja sama jurusan teknik de­ngan Louisiana State University (LSU). Menurut rencana, kerja sama ini akan mengembangkan program studi yang sesuai de­ngan tren pembangunan regio­nal, antara lain teknik sipil, me­sin, informatika, dan elektro.

Berdasarkan data itu, setiap tahun Indonesia kekurangan 133.000 sarjana teknik. Selain itu, mayoritas fakultas teknik di In­donesia juga tidak memenuhi standar internasional Badan Akreditasi Keinsinyuran dan Teknologi (ABET).

Akreditasi ABET mendasarkan penilaian pada kualitas fakultas; fasilitas laboratorium, kurikulum dasar, yaitu Matematika, Sains, Kimia, dan mata pelajaran sesuai dengan program studi, serta umpan balik dari siswa dan pengajar mengenai program studi secara keseluruhan. Penilaian ini lima tahun sekali.

Di Indonesia, hanya lima prog­ram studi milik Institut Tekno­logi Bandung (ITB) yang memenuhi standar ABET, yaitu Tek­nik Elektro, Kelautan, Kimia, Fi­sika, dan Arsitektur.

Dekan Fakultas Teknik LSU Richard Koubek mengatakan, kerja sama USBI-LSU memung­kinkan penerapan kurikulum terakreditasi luar negeri sesuai dengan standar kurikulum na­sional. Tujuannya, ijazah sarjana teknik Indonesia diakui global.

Kerja sama antara Indonesia dan asing bisa mempercepat pro­ses transformasi pembelajaran dan menyesuaikan standar pen­didikan Indonesia dengan stan­dar internasional. “Anak Indo­nesia pandai-pandai, tetapi ka­rena tidak terakreditasi secara internasional, mereka tidak bisa berkompetisi,” kata Arnan.

Berdasarkan data Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) 2013, dari 30 pergu­ruan tinggi swasta dan negeri, 8 mendapat akreditasi A, 20 akre­ditasi B, dan 2 akreditasi C. Ak­reditasi, di antaranya dari visi dan misi perguruan tinggi, sarana dan prasarana pengajaran, serta mu­tu alumni. (A15)

 

Sumber Edisi Cetak Media Kompas

Tanggal 24 Maret 2014