BERLOMBA-LOMBA MENCAKAR LANGIT JAKARTA

Back to Home

Kini, hutan beton berlomba-lomba mencakar langit. Setidaknya ada 120-an gedung jangkung yang menantang langit. Ketinggian gedung-gedung itu berkisar 50-250 meter dari permukaan tanah. Ya. Jakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia menjadi rimba beton yang terus menggeliat.

Hingga tahun 2013, sedikitnya ada 20-an gedung jangkung lagi yang bakal masuk hingga tahun 2020. Jangan kaget, ketinggian bangunan-bangunan tersebut mulai dari 110 meter hingga 636 meter. Dahsyat kan?

Nah, gedung-gedung jangkung tersebut memiliki beragam fungsi. Mulai dari hunian, ruang komersial, hingga pusat kuliner dan hiburan. Artikel ini coba mengintip geliat gedung jangkung yang dimanfaatkan sebagai pusat perkantoran. Pusat kegiatan bisnis dari korporasi-korporasi domestik maupun luar negeri yang membuka cabang di Jakarta, Indonesia.

Melihat tren belakangan ini, bisa jadi estimasi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkisar di angka 6-6,5% bisa terwujud. Pertumbuhan ekonomi yang terus bergulir mau tidak mau berimbas pada meningkatnya kebutuhan korporasi dalam merangsek dunia bisnis. Ketika usaha berkembang, ekspansi dicanangkan, muaranya adalah bertambahnya kebutuhan ruang perkantoran

Nah, bagaimana perkembangan ruang perkantoran di Jakarta dan sekitarnya?

Terus Bertumbuh

BCI Asia menyebutkan, nilai proyek konstruksi perkantoran di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada 2013 mencapai Rp 36 tuiliun. Konstruksi perkantoran menjadi kedua terbesar setelah proyek apartemen kelas menengah yang mencapai Rp 43 triliun. Nilai konstruksi lainnya, yakni segmen rumah tapak Rp 28 triliun, proyek ritel Rp 26 triliun, dan hotel Rp 26 triliun.

Nilai proyek konstruksi tersebut menjadi potret seberapa besar kue bisnis pengem­bangan properti sektor perkantoran. Jika sepanjang 2013-2016, pasokan ruang perkantoran ditaksir 1,1 juta meter persegi (m2) bisa dikira-kira nilai bisnis kon­struksinya. Nilai bisnis ruang perkantoran pun bakal mencapai puluhan triliun rupiah jika harga per meter perseginya Rp 30 juta.

Gedung-gedung jangkung perkantoran itu menyebar tak hanya di pusat bisnis Jakarta, tapi juga ke pinggiran seperti kawasan Simatupang, Jakarta Selatan. Bahkan, bermunculan juga di satelit Jakarta seperti Serpong, Tangerang, Banten yg konektivi­tasnya cukup bagus.

Mari kita lihat gedung-gedung jangkung perkantoran yang bakal merangsek Jakarta dan sekitarnya. Dimulai dari kawasan pusat bisnis Jakarta. Kita bisa melihat menara perkantoran yang digarap Lippo Group. Pengembang properti ini bakal membangun menara perkantoran Lippo Thamrin di kawasan bisnis Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat senilai Rp1,25 triliun.

Proyek perkantoran setinggi 20 lantai itu dibangun pada kuartal I tahun 2014 dan ditargetkan selesai pada akhir 2016. Namun, penjualan sudah dilakukan pada 2013, bahkan pada November 2013 sudah ludes terjual.

Pasti yang membeli perkantoran kelas atas itu bukan perusahaan sembarangan. Maklum, harga awalnya saja US$5.000 per meter persegi. Nah, kalau Lippo Thamrin berkapasitas 25 ribu m2 berapa nilai perkan­toran yang dimiliki kelompok usaha James Ryadi itu.

Menara kantor grade A Lippo Thamrin yang diluncurkan secara resmi pada 24 Oktober 2013 tersebut, telah terjual habis dalam waktu satu setengah hari. “Kami sangat gembira mengingat kondisi ini merupakan wujud nyata antusiasme investor terhadap produk menara kantor yang dikembangkan oleh LPKR,” jelas lvan Setiawan Budiono, chief executive officer (CEO) lippo Homes PT Lippo Karawaci Tbk.

Menurut Todd Lauchan, country head Jones Lang laSalle (JLL), faktor utama keberhasilan Lippo Thamrin adalah karena keunggulan produk tersebut. Selain itu, pemilihan strategi pemasaran yang tepat disertai momentum yang sangat menduku­ng, termasuk faktor penunjang keberhasilan penjualan tersebut. “Pencapaian ini juga merupakan rekor baru dalam industri properti di Indonesia, khususnya untuk segmen perkantoran, karena seluruh unit yang ditawarkan habis terjual dalam tempo satu setengah hari,” kata dia, di Jakarta, baru-baru ini.

Masih di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta. Ada proyek properti milik kelom­pok produsen otomotif, Astra yang ditarget­kan rampung 2016. Proyek properti terpadu itu ditaksir memiliki nilai lebih dari Rp 3 triliun. Di proyek ini ada perkantoran, apartemen, dan ritel. Untuk menggarap properti di Jakarta. Astra menggandeng Hong Kong Land Group.

Astra yg menguasai lebih dari separuh pasar ottomotif Indonesia itu bakal mem­bangun satu menara perkantoran via Menara Astra. Perkantoran Astra berdiri di atas lahan 7.930 m2 yg dibeli dari PT Toyota Astra Motor. Nilai tanah Rp 432,3 miliar. “Rencananya tahun ini kick off ceremony pembangunan proyek properti tersebut,” kata Johnny Dharmawan, direktur PT Astra International Tbk kepada Investor Daily, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, di dekat Astra, Sahid Group juga membangun perkantoran Sahid Sudirman Centre (SSC) berketinggian 52 lantai senilai Rp 1.5 triliun. Proyek perkanto­ran Sahid seluas 132 ribu m2, ditargetkan rampung tahun 2014 dan sudah ludes terjual.

Sedangkan persis di depan proyek Sahid, kelompok Hartati Murdaya membangun World Trade Center II dan III senilal triliunan rupiah.

Kawasan Sudirman-Tharnrin, Jakarta merupakan jantung bisnis Jakarta yang praktis membutuhkan ruang perkantoran.

Proyek gedung perkantoran jaga mengge­liat di kawasan Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Bahkan, sepanjang 2013-2016 trennya cukup marak. Setidaknya ada empat proyek besar yakni milik Rajawali Group, Alam Sutera, Tan Kian dan Telkom.

Rajawali Group yang dimiliki Peter Sondakh menggarap proyek properti senilai hampir Rp 4 triliun di Gatot Subroto, Jaksel. Ada dua menara, satu menara untuk hotel mewah dan satunya untuk perkantoran setinggi 47 lantai. Perkantoran milik Rajawali Group ditargetkan rampung pada 2015 dan baru saja diborong GIC Singapura. GIC Singapura sebagai perusahaan investasi negeri jiran itu optimistis bisnis perkantoran di Jakarta amat prospektif. “Proyek yang digarap oleh Greenland Rajawali Utama itu ditargetkan rampung pada akhir 2015. Saat ini, pekerjaan proyek memasuki pembangunan lantai dasar (basement). Nilai proyeknya sekitar US$ 400 juta,” jelas Managing Director Rajawali Group, Darjoto Setiawan, kepada Investor Daily, di Jakarta, belum lama ini.

Masih di Gatot Subroto, Jaksel, menara perkantoran yang sedang dibangun adalah Telkom Tower milik BUMN Telkom. Mayoritas dari 90 ribu m2 perkantoran itu bakal dipakai kelompok perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia tersebut.

Sementara itu, di kawasan bisnis lainnya, di Casablanca, Jaksel, taipan Ciputra juga membangun menara perkantoran. Menara perkantoran di dalam proyek Ciputra World Jakarta itu, ditaksir bakal mencapai Rp 2 triliun lebih. Kini, sudah satu menara dari tiga menara yg bakal dibangun Ciputra Group di kawasan Casablanca.

Di kawasan Jakarta, proyek perkantoran paling fenomenal adalah Signature Tower milik taipan Tommy Winata.

Menara setinggi 638 meter itu memiliki 111 lantai, dimana sebanyak 80 lantal bakal dipakai untuk perkantoran. Signature Tower yg berdiri di jantung Jakarta itu menjadi gedung tertinggi ke-5 di dunia, senilai Rp 18 triliun. Signature Tower yg dibangun lewat bendera PT Danayasa Arthatama Tbk itu, diperkirakan rampung dalam lima tahun.

Ya. Gedung-gedung jangkung perkantoran terus bermunculan sepanjang 2013-2016. Sekitar 1 juta m2 bakal masuk ke Jakarta. Bisa kebayang berapa perusahaan yang bakal menempati ruang-ruang perkantoran tersebut.

Oleh Edo Rusyanto

Sumber : media cetak Investor Daily, 9 November 2013, Hal. 13