Apartemen Mewah Masih Diburu

Back to Home

► Potensi kenaikan harga dalam tiga tahun ke depan dinilai cukup tinggi.

► Sepanjang semester I/2015, belum ada properti mewah baru diluncurkan.

JAKARTA — Di tengah tren penjualan properti yang melambat, para investor diprediksi masih akan memburu rumah pangsa atau apartemen kelas premium seiring dengan tingkat harga yang masih menguntungkan.

Pengembang pun tak surut langkah dalam mengembangkan hunian bagi kalangan berada ini.

Head of Residential Project Marketing JLL Indonesia Luke Rowe mengatakan, kebutuhan hunian vertikal di Jakarta akan tetap meningkat kendati nilai penjualan pada kuartal II/2015 lebih rendah 68% dibandingkan dengan kuartal I/2015.

“Sejak April 2015, pasar apartemen mengalami penurunan, tetapi kami tetap percaya pasar residensial akan tetap memberikan imbal hasil yang luar biasa seiring dengan kepercayaan diri konsumen yang kembali menguat,” jelasnya, Selasa (8/9).

Berdasarkan survei Bank Indonesia, indeks keyakinan konsumen (IKK) merangkak naik 2,7 poin menjadi 112,6. Di atas indeks 100, keyakinan konsumen masih tergolong optimistis. Dalam enam bulan ke depan, indeks ekspektasi penghasilan juga meningkat 6,1 poin menjadi 129,7.

Head of Advisory JLL Indonesia Vivien Harsanto menambahkan, di tengah ketidakpastian dan situasi ekonomi yang melambat, potensi kenaikan harga dalam tiga tahun ke depan justru cukup tinggi. Pasalnya, per kuartal II/2015, pasokan aparteman hingga 2018 mencapai 60.000 unit dan tingkat penjualan telah mencapai 84%.

“Artinya ke depan tidak terlalu banyak opsi lagi di primary market, very limited. Kalau secondary market, tentunya harganya berbeda,” katanya.

Sementara itu, pasokan apartemen yang ada hingga kuartal II/2015 mencapai 100.520 unit. Sebanyak 10%—15% diantaranya merupakan pasokan kelas atas dengan harga di atas Rp40 juta per m2.

Vivien mengatakan, diban-dingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik, pertumbuhan harga properti mewah di Jakarta sangat atraktif. Riset JLL menunjukkan, kenaikan tahunan harga properti mewah di Jakarta mencapai 10,4% per kuartal II/2015. Angka ini melampaui Hong Kong, Singapura, dan Kuala Lumpur.

Menurutnya, pasar domestik yang begitu kuat menjadi penyebab utama harga properti mewah di Jakarta terus bertumbuh.

Dia melihat, dalam situasi ekonomi yang belum bergairah seperti sekarang, pengembang cenderung memasarkan atau mengembangkan proyek yang sudah ada. Sepanjang semester I/2015, belum ada pengembang yang meluncurkan properti mewah yang baru.

Respons pasar domestik yang kuat dalam menyerap pasokan hunian juga diamini oleh Head of Resident Development Astra Property Division Wibowo Muljono.

HARGA MENINGKAT

Dia mengatakan, dalam setahun sejak peluncuran, penjualan apartemen Anandamaya Residence telah mencapai 90% dengan kenaikan harga rata-rata mencapai 27%.

Harga unit apartemen yang dikembangkan oleh PT Brahmayasa Bantera, perusahaan patungan PT Astra Internasional Tbk. dengan Hongkong Land itu kini telah mencapai Rp68 juta per meter persegi untuk tipe terkecil. “Harga paling tinggi Rp100 juta per meter persegi, ini sudah termasuk pajak,” ujarnya.

Wibowo menerangkan, pembangunan tiga menara apartemen yang menelan biaya investasi hingga Rp3,5 triliun itu ditargetkan rampung pada 2018 dengan kapasitas sebanyak 509 kamar. Adapun, tipe unit bervariasi 120 m2 hingga 360 m2 dan dibanderol dengan harga mulai dari Rp9,6 miliar.

Hingga akhir tahun, unit yang tersisa di apartemen Anandamaya mencapai 10% dari total kapasitas. Wibowo menyebutkan, jumlah unit tersisa tersebut tidak akan dilego seluruhnya tahun ini. “Kami masih simpan unit-unit terbaik.”

Menurut Wibowo, sebanyak 60% pembeli unit merupakan investor yang berniat melakukan investasi dalam jangka panjang.

Sebagian besar pembeli bahkan menebus unit properti secara tunai dan tunai bertahap. Dia menjelaskan, pembayaran unit lewat kredit perbankan tak lebih dari 10%.

Sebelumnya, Ciputra Group juga akan mengalokasikan pembangunan hunian mewah sebanyak 10%—15% dari total unit yang akan dibangun. Harga per unit untuk hunian mewah yang digarap Ciputra dibanderol dengan harga di atas Rp5 miliar.

“Hunian sangat mewah hanya kami kembangkan di Jakarta dan Bali. Dengan hiasan kondominium 150 m2 saja sudah bisa kami pasarkan dengan harga Rp5 miliar atau lebih,” kata Presdir Ciputra Group Candra Ciputra, baru-baru ini.

Dia menambahkan, porsi kondominium atau resor senilai Rp5 miliar itu bisa mengakomodasi kebutuhan orang asing. Menurutnya, sejauh ini orang asing yang membeli properti di Indonesia hanya tertarik dengan Jakarta, khususnya di koridor pusat bisnis dan resor di Pulau Dewata.

Pengembang lainnya, PT Gunas Land juga berencana membangun apartemen mewah di Menteng, Jakarta Pusat.

Direktur Gunas Land Edward Kusma mengatakan, unit yang akan dibangun dibanderol seharga Rpl00 juta per m2 dengan kapasitas 50 unit—60 unit. Adapun, luas terkecil direncanakan 300 m2—400 m2.

“Sekarang kalau kita lihat rumah di Menteng harganya sudah mencapai Rp100 miliar. Jadi, kalau ada apartemen dengan harganya setengahnya, orang masih mau beli,” tutur Edward.

Dia menambahkan, ke depan konsumen kelas atas menginginkan hunian yang relatif dekat dengan tempat kerja. Sebagai contoh, apartemen di Pacific Place di Sudirman, Jakarta Selatan walau memasang harga tinggi tetap diburu pembeli.

 

Pertumbuhan Harga Properti Mewah di Sejumlah Kota di Asia Pasifik* (%)

Kota Kuartal II Dibanding 1/2015 2015 Dibanding 2014
Manila 4,6 14,5
Jakarta 4,2 10,4
Shanghai 2,7 5,6
Hongkong 1,7 6,4
Mumbai 0,6 1,7
Bangkok 0,0 0,2
Beijing 0,0 -2,1
Singapura -2,0 -8,9

Ket : Harga berdasarkan nilai tukar setempat. Properti residensial mewah mencakup apartemen, kondominium, dan rumah tapak di area premium di tiap-tiap kota.

Sumber : Jones Lang LangSalle

Bisnis Indonesia | Rabu, 09 September 2015 | Hal. 29