Ada Tommy di Tambling

Back to Home

01Pengusaha Tommy Winata membangun kawasan konservasi di wilayah Lampung Barat untuk melestarikan harimau dan berbagai kekayaan hayati di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Merangkul masyarakat agar ikut menjaga kelestarian hutan. Hasilnya akan dikembalikan kepada pemerintah.

 

pada suatu malam Januari 2013, Mas’ud Ashari tengah mune­lusuri hutan di tepian Danau Mekujut di kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Barat. Demi keamanan. staf Departemen Biologis TWNC ini ditemani seorang ranger, Doni Muharja, yang dilengkapi dengan sepucuk senapan laras panjang. Hampir satu jam, mereka berjalan menyusuri hutan, yang masih termasuk kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan itu. Mendadak, mereka menghentikan langkah.

Berjarak sekitar tujuh meter didepan mereka, muncul seekor harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dewasa. Kedua mata harimau itu menatap garang ke arah mereka. Merasa terancam, Doni Muharja langsung mengokang senapan laras panjang yang dia sandang. “Nanti dulu,” kata Mas’ud mencegah Doni untuk bertindak yang bisa membahayakan hidup hewan yang dilindungi itu. Dengan cekatan. Mas’ud segera mengambil se­batang rokok, dan memantik api untuk menyalakannya.

Melihat ada nyala api, harimau itu mundur dan berlalu menjauh masuk hutan. Sikap Mas’ud yang menyulut me­rokok saat bertemu harimau bukanlah tindakan konyol. Dari referensi, Mas’ud beroleh pengetahuan bahwa harimau takut pada api atau asap. Karena itulah, Mas’ud tak pernah terlampau khawatir bertugas memantau berbagai kekayaan hayati di kawasan seluas 45.000 hektare itu.

Bukan cuma sekali ia bertemu dengan harimau. Di kawasan tersebut, diperkirakan ada sekitar 28 ekor harimau Sumatera.

Dari hasil pemantaun terkini, di 33 titik dengan menggunakan 66 unit kamera trap, sejauh ini ada sebanyak 22 ekor harimau dewasa dan dua ekor anak harimau yang berhasil diambil gambar­nya. Sisanya, empat ekor harimau lagi, adalah harimau yang tertangkap warga yang kemudian dilepasliarkan.

Dengan jumlah sebanyak itu, di­bandingkan dengan luas kawasannya, tingkat kepadatan populasi harimau di TWNC, kata Mas’ud, merupakan yang tertinggi di Sumatera. Artinya, jumlah harimau berada di kawasan itu mencapai 10 persen dari total perkiraan 300 ekor harimau liar di seluruh Sumatera. Padahal, luas kawasan Tambling hanya 0,09 persen dari luas Pulau Sumatera. Meskipun demikian, konflik antara manusia dan harimau di kawasan itu jarang terjadi. “Manusia dan harimau itu win-win solution. Kalau mau memangsa manusia, paling itu juga pilihan terakhir buat harimau,” kata Mas’ud kepada Gatra.

Jarangnya konflik antara manusia dan harimau di kawasan tersebut karena ketersedian mangsa yang cukup bagi harimau untuk bertahan hidup, sehingga membuatnya merambah ke pemukiman penduduk. Jika berjalan menelusuri jalan konservasi TWNC, akan terlihat beberapa janis hewan yang biasa dimangsa harimau, seperti kerbau liar (Bubalus bubalis), rusa sambar (Cervus unicolor), juga babi hutan (Sus scrofa).

UntitledSelain harimau liar, kawasan TWNC juga dihuni delapan ekor harimau yang tengah direhabilitasi di Tiger Rescue Center TWNC. Tempat rehablitasi itu dilengkapi dua kandang besar berukuran setengah kali lapangan sepakbola dan enam kandang kecil berukuran 5×5 meter. Menurut penanggung jawab kandang, Marizal, kandang besar itu diperuntukkan bagi harimau yang tahapan rehabilitasi­nya hampir rampung. “Kandang ini untuk melatih kesepian harimau kembali ke alam liar,” ujarnya.

Sementara kandang kecil diper­untukkan bagi harimau yang masuk reha­bilitasi tahap awal. Kebanyakan harimau di pusat rehabilitasi ini adalah harimau yang ditangkap karena berkonflik de­ngan pcnduduk, seperti dari Aceh dan Jambi. Agar naluri liarnya tak hilang, harimau-harimau ini diberi pakan hidup berupa babi ternakan. Satu harimau bisa menghabiskan habi berbobot 15 kilogram selama tiga hari. “Total biaya pakan delapan harimau bisa mencapai delapan puluh juta rupiah setiap bulan,” kata Marizal.

Sejauh ini, harimau yang sudah dilepasliarkan dari pusat rehabilitasi berjumlah lima ekor. Selain itu ada juga empat ekor harimau anak dari harimau penghuni tiger rescue. Dengan keterse­diaan habitat yang baik, harimau di Tam­bling tak pernah menjadi ancaman bagi manusia. Sebaliknya, justru manusialah yang menjadi ancaman bagi harimau. “Terutama pemburu liar.” ujar Mas’ud. Para pemburu nekat berburu satwa yang dilindungi ini karena tergiur harga yang tinggi. Harga harimau tangkapan yang utuh tanpa bekas luka bisa sampai Rp 50 juta per ekor.

Karena itu, untuk melindungi harimau di kawasan tersebut, TNWC mempekerjakan 61 petugas keamanan yang berpatroli secara rutin untuk meng­halau para pemburu. Resiko menjadi jagawana ini tidak kecil, mengingat para pemburu liar kerap bertindak nekat. “Dan pada ketahuan, bisa saja mereka menembak petugas, atau siapa pun yang lihat aksi mereka. Pemburu liar jadi ancaman bagi petugas dan juga satwa di Tambling,” kata Mas’ud lagi.

Kawasan TWNC didirikan pada tahun 1997 oleh pengusaha Tommy Winata sebagai bagian dari program Artha Graha Peduli (AGP). Ide awal pendiriannya bermula dari pengalaman Tommy Winata saat berkunjung ke wilayah Tampak hingga Belimbing tahun 1995 silam. la menemukan kerusakan kerusakan hutan yang parah. Illegal logging, illegal bunting dan illegal fishing terjadi di sini,” kata Tommy Winata  kepada Gatra.

Karena itulah, pada tahun 1997 AGP kemudian masuk ke kawasan ter­sehut sebagai relawan pelestarian alam Tambling, yang merupakan akronim dari Tampak dan Belimbing. Sepuluh tahun kemudian, pada 2007, AGP diberi izin mengelola kawasan seluas 45.000 hektare, yang kemudian dijadikan ka­wasan TWNC. Agar kawasan konser­vasi itu tidak mengundang konflik dengan penduduk, pihak TWNC juga melakukan pendekatan kepada penduduk desa Pangekahan yang berjumlah 500 jiwa agar turut menjaga kawasan tersebut para penduduk dipekerjakan di Tambling. “Tadinya mereka dapat uang dari nebang pohon, sekarang kita gaji mereka untuk nanam pohon,” kata Tommy.

Kini TWNC sudah berkembang,bukan hanya menjadi kawasan konservasi harimau, melainkan juga keanekaragaman hayati yang lain. Banyak jenis flora dan fauna yang sempat dinyatakan punah, malah ditemukan di Tambling. Salah satunya adalah hairy-nosed Otter atau sejenis berang-berang Sumatera (lutra sumatrana) yang dinyatakan punah ratusan tahun lalu. Ternyata hewan ini ditemukan kembali tahun 1998.

02Di kawasan Tambling juga terdapat satwa-satwa yang terancam, punah, se­perti gajah Sumatera (Elephas maximus Sumateranus), dan macan dahan (sunda clouded leopard). Ada juga seratus lebih spesies burung dan 20 jenis Amfibi dan reptil. Selain fauna, Tambling juga men­jadi rumah bagi beberapa flora langka se­perti beringin percekik (ficus sp.), jelatong lampung, dan meranti (Shorea sp.).

Untuk menopang proses reboisasi. TWNC juga membangun kebun pembibitan. Salah satu yang dibiakkan adalah kayu ulin. Tumbuhan endemik Sumatera dan Kalimantan ini langka karena punya kualitas kayu yang baik. Tommy Winata mengatakan, semua hasil rekaman di TWNC akan dikembalikan kepada pe­merintah. TWNC lebih fokus pada upaya melestarikan dan memperlambat kerusakan alam yang terus mengancam seperti abrasi. “tugas melestarikan apa yang bisa kami lestarikan, sebatas ke­mampuan kami.” katanya.

 

M. AGUNG RIYADI

DAN EDMIRALDO SIREGAR (TAMBLING)

 

Sumber Media Cetak:

Gatra, 12 September 2013, Hal. 44