2017, Pasar Properti Tumbuh 15%

Back to Home

Suara Pembaruan | Kamis, 3 November 2016 | Hal. 11

[JAKARTA] Nilai pasar properti pada 2017 ditaksir meningkat 15% menjadi sekitar Rp 318 triliun. Segmen hunian masih menjadi kontributor terbesar bisnis properti di Tanah Air tahun depan. Adapun faktor-faktor yang menopang pertumbuhan industri properti 2017 antara lain dampak positif kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty), lahirnya regulasi pemangkasan perizinan pembangunan hunian, dan penurunan suku bunga perbankan.

Demikian rangkuman pendapat Chief Executif Officer (CEO) Gapuraprima Group Rudy Margono, Direktur Utama PT PP Properti Tbk Taufik Hidayat, Wakil Direktur Utama PT Agung Podomoro Land Tbk Indra Widjaja, Direktur/Chief Marketing Officer (CMO) PT Lippo Cikarang Tbk Stanley Ang, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandi, dan analis properti Torushon Simanungkalit. Mereka dihubungi secara terpisah, Rabu (2/11).

“Nilai kapitalisasi properti nasional tahun 2017 diperkirakan mcncapai Rp 318 triliun, meningkat 15% dibanding 2016 yang mencapai Rp 277 triliun,” ujar Torushon.

Dia menjelaskan, segmen hunian, yaitu apartemen dan perutnahan menjadi kontributor terbesar yakni mencapai 55,8% dari nilai kapitalisasi properti nasional. Laju pertumbuhan nilai kapitalisasi sektor hunian mencapai 16,5%, yakni dari Rp 152,7 triliun menjadi Rp 177,9 triliun pada 2017.

Menurut dia, terdapat sejumlah faktor yang mcmicu peningkatan nilai kapitalisasi pasar properti 2017. Faktor-faktor tersebut yakni suku bunga perbankan yang semakin rendah dan diperkirakan akan mencapai di bawah 10% atau single digit dan pelonggaran loan to value (LTV). Lalu, konsumsi domestik yang meningkat baik akibat permintaan pasar dan juga makin konsennya pemerintah untuk menekan backlog yang kini mencapai 13,5 juta rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Theresia melihat bahwa kondisi politik dan keamanan yang stabil akan semakin meningkatkan investasi asing mengingat pasar dan demografi Indonesia sangat menggiurkan bagi negara lain. Investasi asing masuk maka kebutuhan seperti perkantoran, gudang, kawasan industri pun bisa meningkat. “Kami optimistis tahun 2017 akan lebih positif,” kata dia.

Tcrkait program amnesti pajak, tambah dia, dana dari program itu akan digunakan pemerintah untuk melanjutkan pembangunan. Ini akan membuat perekonomian bergulir dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Jika roda perekonomian bergulir, kebutuhan properti juga akan meningkat.

Proyek Baru

Sementara itu, bagi Theresia, kebijakan-kebijakan pemerintah yang dikeluarkan pada 2016 diharapkan efektif dan bisa dilaksanakan pada 2017. Dia mencontohkan kebijakan terkait DIRE, dan kepemilikan asing. “Untuk 2017, saat ini kami masih menyusun target dan anggarannya,” tutur dia.

Melihat perkiraan membaiknya industri properti pada 2017, Taufik mengaku pihaknya bakal menggulirkan sejumlah proyek baru. “Tahun 2017 kami meluncurkan produk-produk baru kami berupa apartemen, mall dan hotel di lahan-lahan yang sudah kami miliki,” tuturnya.

Bahkan, lanjut dia, PP Properti juga akan ekspansi ke sejumlah kota seperti Bandung dan Malang. Ekspansi dilakukan guna melayani permintaan konsumen yang ingin memiliki produk-produk properti anak usaha PT PP Tbk itu.

“Untuk rencana tahun depan sedang kami matangkan. Namun, pertumbuhan pre sales tahun depan kami perkirakan berkisar 20- 30%. Tahun 2016, pre sales kami harapkan sekitar Rp 2,4 triliun,” jelas Taufik.

Pemain apartemen lainnya, yakni kelompok Gapura Prima juga punya harapan serupa. “Tahun 2017 lebih optimistis, banyak deregulasi seperti di sektor pajak dan perizinan. Mudah-mudahan kami bisa meluncurkan proyek baru,” tutur dia. [ID/M-6]